Biaya operasi F-35 mahal, diibaratkan sebagai mobil Ferrari

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Lockheed Martin meyakini biaya operasi F-35A dapat turun menjadi 25.000 USD/jam (Rp351 juta/jam) pada tahun 2025. Saat ini biaya operasi F-35A masih berkisar di angka 36.000 USD/jam (Rp506 juta/jam).

Akan tetapi, penurunan biaya itu akan tercapai apabila Joint Program Office (JPO) yang mengelola F-35 setuju dengan kontrak logistik berbasis kinerja (Performance-Based Logistics/PBL).

Seperti dilaporkan Flightglobal, penurunan biaya operasi F-35A menjadi krusial. Sebab, USAF sudah berpikir untuk kembali menggunakan pesawat tempur generasi keempat yang ditingkatkan kemampuannya.

Kepala Staf USAF akui biaya F-35 mahal

Mahalnya biaya operasi F-35A, diakui langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara AS (USAF) yang baru Jenderal Charles Brown Jr.

Dalam wawancara dengan Forbes pada 17 Februari 2021 ia menyatakan, F-35 yang disiapkan selama 20 tahun terlalu mahal dan tidak efisien setelah pengembangnya. Sebab, Lockheed Martin melengkapinya dengan teknologi baru yang semakin banyak.

Diakui, F-35A di USAF telah menjadi masalah.

“Ya, kami bicara tentang F-35. Pesawat tempur siluman seberat 25 ton itu telah menjadi masalah. Dan sekarang Amerika membutuhkan pesawat tempur baru untuk mengatasi masalah F-35 itu,” ungkapnya.

Brown Jr. menyamakan F-35 dengan mobil Ferrari. Mobil ini merupakan produk mahal, jarang dipakai, dan memerlukan biaya perawatan tinggi.

“Anda tidak akan menggunakanya untuk perjalanan ke kantor setiap hari,” kata Brown.

Ditambahkan, F-35 merupakan produk pesawat kelas atas yang penggunaannya pun harus disesuaikan.

“F-35 adalah petarung kelas atas, kami ingin memastikan bahwa kami tidak menggunakan semuanya untuk pertarungan kelas bawah,” ungkap Brown.

Oleh karena itu, lanjutnya, kebutuhan akan pesawat tempur kelas bawah baru untuk mengisi kekosongan dalam operasi sehari-hari di USAF sangat diperlukan.

Bicara pengganti F-16

Saat ini, sekira 1.000 F-16 USAF dioperasikan USAF. Namun, pembelian F-16 dari Lockheed Martin sudah diakhiri pada 2001.

Dalam wawancara terakhir sebelum meninggalkan jabatannya pada Januari 2021, Will Roper, Pejabat Akuisisi Tertinggi Angkatan Udara, melontarkan gagasan pesanan F-16 baru untuk USAF. Tapi Brown menolak ide tersebut dan ia mengatakan tidak menginginkan lebih banyak pesawat klasik.

Brown beralasan, F-16 seberat 17 ton dan non-siluman terlalu sulit untuk ditingkatkan lagi dengan perangkat lunak terbaru.

“Alih-alih memesan F-16 baru, Angkatan Udara harus memulai ‘desain clean-sheet’ untuk pesawat tempur low-end baru,” pungkasnya.

Tetap dibutuhkan tapi terbatas penggunaannya

Catatan Redaksi AR, mencermati apa yang disampaikan Brown, setidaknya ada dua hal yang dapat kita sarikan.

Pertama, USAF tetap akan membutuhkan F-35 tetapi bukan dalam jumlah sangat banyak dan hanya akan menggunakannya pesawat tersebut untuk pertarungan tingkat atas.

Kedua, diperlukan pesawat tempur ringan yang baru sebagai pengganti F-16 dengan desain yang baru pula.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *