Dilema biaya tinggi jet siluman, USAF ingin generasi 4,5 yang canggih pengganti F-16

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Udara AS (USAF) berada dalam dilema antara menambah jumlah F-35A sesuai rencana awal hingga 1.763 unit, atau menyetopnya di angka 1.050 unit saja.

Masalahnya, USAF menghadapi permasalahan dengan anggaran di mana biaya operasional dan perawatan F-35A cukup tinggi dan dapat menyedot anggaran perawatan pesawat lainnya.

Padahal seperti rancangan awal Pentagon, F-35 akan menggantikan seluruh platform pesawat tempur generasi keempat. Namun faktanya, jet tempur non-siluman masih mendapatkan tempatnya dan bahkan terus dikembangkan kapabilitasnya.

USAF tertarik untuk membeli pesawat tempur generasi keempat plus pengganti F-16 seperti dilakukan pada F-15EX untuk menggantikan F-15C/D.

Meski demikian, rumusan pesawat yang diinginkan itu belum tergambar secara jelas. USAF bisa saja kembali kepada F-16 dengan pilihan varian terbaru F-16 Viper yang kini produksinya dipindahkan dari Fort Worth ke South Carolina.

Akan tetapi, tampaknya bukan F-16V juga yang kini telah diekspor ke berbagai negara dan ditawarkan secara luas.

Studi pesawat campuran pengganti F-16

USAF telah memulai studi yang akan menggambarkan campuran antara pesawat tempur yang disukai dan pesawat taktis lainnya, untuk menghasilkan sebuah pesawat yang akan diajukan pada anggaran tahun fiskal 2023.

Pesawat ini, kata Kepala Staf USAF yang baru Jenderal Charles “CQ” Brown, dapat dikatakan sebagai pesawat tempur generasi “4,5” atau “5-” (lima minus). Bentuknya bisa dibayangkan antara F-16 generasi era 1970-an dengan pesawat siluman F-22 dan F-35.

Charles “CQ” BrownAir Force Magazine

General Charles “CQ” Brown.

Ia menekankan, USAF bisa melakukan inovasi untuk menciptakan pesawat tempur canggih tapi murah.

“Jika kita memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang lebih mampu dengan lebih murah dan lebih cepat, mengapa tidak? Mari kita tidak hanya membeli dari rak (yang tersedia), kita lihat sesuatu yang lain di luar sana yang dapat kita bangun,” kata Brown dalam jumpa pers meja bundar dengan para wartawan/penulis masalah pertahanan.

Defense News memberitakan, komentar Brown ini adalah pertama kalinya seorang Kepala Staf USAF berbicara memperkenalkan pesawat generasi keempat lainnya untuk masuk ke dalam inventaris pesawat tempur USAF.

Sebelumnya pada bulan Januari lalu, mantan Kepala Akuisisi Angkatan Udara Will Roper mengungkapkan, studi layanan USAF mempertimbangkan kemungkinan USAF akan membeli F-16 terbaru dari Lockheed Martin.

Roper menyebut, lini produksi F-16 di South Carolina memiliki fasilitas yang bisa dikembangkan.

“Seperti yang Anda lihat pada lini produksi F-16 baru di South Carolina, sistem itu memiliki beberapa kemampuan yang bisa ditingkatkan luar biasa dan layak untuk dipikirkan sebagai bagian dari solusi kapasitas kami,” kata Roper kepada Aviation Week.

Akan halnya Brown, dia mengatakan masih belum yakin bila F-16 adalah opsi yang tepat.

“Saya tidak tahu apakah itu benar-benar F-16. Sebenarnya, saya ingin dapat membangun sesuatu yang baru dan berbeda, bukan F-16,” tandas Brown.

Brown membayangkan sebuah pesawat baru dengan kemampuan melebihi F-16 yang dibuat dengan cepat melalui pedekatan digital.

F-16USAF

F-16 dari 169 FW, South Carolina.

“Saya menyadari, orang telah menyinggung bahwa itu adalah pesawat tertentu. Tapi saya terbuka untuk melihat platform lain, untuk melihat campuran kemampuan yang tepat itu. ”

Jadi, apakah kemampuan baru ini berupa pesawat clean sheet yang baru?

Brown menjelaskan, daftar prioritas kemampuan pesawat baru adalah sistem misi terbuka dengan sistem komputasi yang cukup kuat sehingga kode perangkat lunak dapat diperbarui dengan sangat cepat.

Brown mencontohkan pendekatan yang telah diambil oleh USAF pada jet latih T-7A Red Hawk hasil kerja sama Boeing dengan Saab dan pesawat tempur masa depan yang masih dirahasiakan, yang disebut sebagai Next Generation Air Dominance (NGAD).

Kedua pesawat itu, kata Brown, dirancang menggunakan praktik rekayasa digital yang memungkinkan layanan tersebut memodelkan siklus hidup berbagai desain dan dengan cepat menyiapkan demonstran skala penuh untuk uji penerbangan.

Brown balik bertanya kepada para jurnalis, lalu apakah putra dari NGAD itu?

Studi yang sedang dilangsungkan saat ini, ujarnya, mencakup pemodelan, simulasi, dan analisis. Tujuannya adalah menentukan campuran pesawat yang tepat, kemampuan apa yang masing-masing pesawat miliki dari setiap jenis yang dibutuhkan. Itulah kebutuhan yang dapat memastikan Angkatan Udara berhasil mengatasi konflik di masa depan.

Dikatakan, penelitian yang dilakukan oleh USAF saat ini memang tidak melibatkan pihak luar.

Meski demikian, untuk masalah anggaran dan biaya evaluasi, Brown akan bekerja sama dengan Kantor Penilaian Biaya dan Evaluasi Program Pentagon (CAPE), sebuah organisasi berpengaruh di Kantor Menteri Pertahanan yang sering menentang keputusan anggaran layanan dan mendukung solusi berbiaya rendah.

“Saya dapat membuat rekomendasi, walaupun saya tidak benar-benar memiliki suara akhir, karena sekali lagi, saya harus bekerja dengan OSD (Kantor Menteri Pertahanan) dan Kongres. Tapi itulah mengapa analisis bagi saya penting dan dialog itu penting,” ujarnya.

Tantangannya tentu tidak mudah, berinvestasi dalam jenis pesawat tempur lain bisa menjadi pengajuan yang sulit bagi USAF kepada Kongres, terutama bila dikaitkan dengan beberapa pesawat tempur yang sudah diproduksi saat ini.

Harga jual murah belum menentukan segalanya

Catatan Redaksi Airspace Review, AS yang lebih dulu mengembangkan pesawat tempur generasi kelima F-22 Raptor melalui proses yang panjang, menyetop produksi F-22 hanya 187 unit saja untuk USAF karena pesawat ini dinilai sangat mahal biaya operasi dan perawatannya.

Demikian juga dengan pengembangan F-35 yang masih belum selesai dan masih membutuhkan biaya-biaya tambahan untuk penyempurnaannya.

Pentagon dan Lockheed Martin selaku produsen F-35 mengatakan, telah berupaya menurunkan harga jual F-35 hingga angga 77,9 juta USD/pesawat dalam kelompok produksi Lot 14 tahun fiskal 2020.

Tetapi, faktanya biaya pajak juga sangat besar untuk F-35. Angka yang diangkat ke media tersebut, tampaknya belum memberikan gambaran lengkap tentang harga per pesawat dan program secara keseluruhan.

F-16 dan F-35 pertama di Luke AFBUSAF

F-16 menyambut F-35 pertama yang akan ditempatkan di Luke AFB pada 10 Maret 2014.

Laporan pengadaan pesawat USAF tahun fiskal 2021 menyebut, harga “stiker” 77,9 juta USD untuk F-35A tahun 2020 telah melonjak menjadi 110,3 juta USD/persawat ketika semua aspek program ditambahkan bersama. Dan, angka tersebut akan meningkat di tahun-tahun mendatang karena pesawat yang dibeli sekarang menerima peningkatan yang cukup signifikan.

Memang tidak ada yang murah dalam sebuah pengembangan pesawat tempur canggih. Akan tetapi, seriiring berjalannya waktu, efisiensi biaya operasi menjadi faktor yang dipertimbangkan. Oleh karena itu, beragam terobosan inovasi terus dicari dan ditemukan untuk menghasilkan sebuah mesin perang yang lebih efektif dan lebih efisien.

Kondisi di Indonesia

Dikaitkan dengan Indonesia, di tengah “euforia” upaya pembelian pesawat tempur untuk TNI AU oleh pemerintah saat ini yang ramai dibicarakan, tentu perhitungan dari berbagai aspek telah diambil oleh sejumlah instansi terkait.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dalam Rapat Pimpinan TNI AU 2001 di Cilangkap, Jakarta Timur pada 18 Februari 2021 mengatakan, TNI AU telah melakukan beberapa kali revisi pengusulan alutsista yang terus disesuaikan dengan berbagai kondisi global dan kemampuan negara.

Tentunya, mempertimbangkan pesawat-pesawat yang sudah dimiliki serta menghitung kalkulasi biaya pemeliharaan dan operasional tipe baru ke depan, ini sangat penting bagi kelangsungan semua pesawat yang dimiliki nantinya.

Jangan sampai rencana “aksi borong” pesawat tempur ini nantinya menimbulkan permasalahan yang pelik terkait biaya perawatan dan operasinya.

Kita percayakan semuanya kepada pemerintah yang akan mengambil keputusan tersebut.

Roni Sont

2 Replies to “Dilema biaya tinggi jet siluman, USAF ingin generasi 4,5 yang canggih pengganti F-16”

  1. mungkin selain beaya operasional dan maintenance yg tinggi para petinggi USAF juga dah insyaf kalo kemampuan radar pengendus pesawat siluman juga semakin berkembang hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *