AS Kemungkinan Tak Lepas EPAWSS untuk F-15EX Indonesia

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Seperti telah diberitakan sebelumnya, TNI AU berencana mengakuisisi dua jenis pesawat tempur canggih dalam waktu tak berapa lama ke depan, yaitu Rafale (F3R atau bahkan F4) buatan Dassault, Perancis, dan F-15EX Advanced Eagle buatan Boeing, Amerika Serikat.

Tak hanya media-media Indonesia, media-media asing pun memberitakannya, termasuk Air Force Magazine yang merupakan media yang dirilis Air Force Association (AFA).

Sebagai catatan, AFA sendiri adalah organisasi yang berdiri di luar Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) namun bertujuan untuk memberi edukasi publik tentang peran penting kekuatan kedirgantaraan dalam pertahanan, mengadvokasi kekuatan dan pertahanan nasional Amerika yang kuat dan mendukung USAF, serta keluarga besar USAF.

Yang menarik, pada alinea terakhir pemberitaan Air Force Magazine perihal kemungkinan Indonesia membeli F-15EX, disebutkan bahwa ada komponen yang sepertinya tidak akan dilepas AS ke Indonesia yaitu EPAWSS.

Dengan kata lain, kalaupun Amerika mengizinkan Indonesia membeli jet tempur tercanggih Boeing saat ini tersebut, perangkat EPAWSS kemungkinan besar tidak akan disertakan, alias tidak boleh ikut dijual Boeing ke Indonesia.

EPAWSS atau Eagle Passive Active Warning Survivability System adalah perangkat digital peringatan dini untuk ancaman terhadap F-15 tersebut (baik berupa kuncian radar ataupun rudal) dalam berbagai rentang spektrum elektromagnetik, baik radar maupun infra merah. EPAWSS mampu menyimpan data spektrum elektromagnetik yang diarahkan pada F-15, lalu mengidentifikasi ancaman yang datang, menganalisisnya lalu memprioritaskan mana ancaman paling berbahaya serta membantu pilot menentukan senjata apa (yang dibawa F-15) yang paling tepat untuk menetralisir ancaman tersebut.

Saking canggihnya, EPAWSS disebut-sebut sebagai satu-satunya perangkat yang memungkinkan Amerika melumpuhkan rudal pertahanan udara jarak jauh canggih sekelas S400 Triumf buatan Rusia, di luar serangan dengan armada jet tempur siluman (stealth).

Meski mengundang tanya bagi sebagian pihak, sebenarnya posisi Amerika dalam hal ini (jika benar tidak mengizinkan ekspor EPAWSS ke Indonesia) sudah bisa diduga sebelumnya. Terutama jika kita cermat membaca sebuah paragraf dalam rilis DSCA (Defense Security Cooperation Agency) setiap kali ada penjualan senjata Amerika ke negara lain.

F-15EXBoeing

Paragraf yang selalu ada dalam setiap rilis DSCA tersebut memang seakan-akan sebuah barisan kalimat yang “diulang-ulang” sehingga setelah sekian lama, pembaca yang tidak jeli dapat mengabaikannya.

Kalimat tersebut berbunyi: “The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.

Dengan kata lain, dalam menjual alutsista buatannya, Amerika selalu memperhitungkan faktor geopolitik dan keseimbangan kekuatan militer di kawasan yang bersangkutan.

Dalam hal F-15EX untuk Indonesia (sekali lagi, jika Amerika memang mengizinkan penjualannya) maka tentunya Amerika akan memperhitungkan keseimbangan kekuatan militer yang terjadi sesudahnya. Seperti misalnya perimbangan kekuatan dengan Australia, Malaysia, dan Singapura yang bertetangga paling dekat dengan Indonesia.

Dengan informasi yang tentunya masih harus dikonfrmasi lebih jauh ini, sebenarnya peluang jet tempur Rafale yang teknologinya lepas dari kontrol ekspor senjata AS (ITAR) justru semakin kuat. Namun kembali lagi, dalam transaksi jual beli alutsista faktor politik lah yang bisa jadi penentu akhir.

Antonius. KK

24 Replies to “AS Kemungkinan Tak Lepas EPAWSS untuk F-15EX Indonesia”

  1. Gak usah beli pesawat tempur buatan AS, terlalu banyak aturan dan intervensinya. Beli saja dari Rusia dan Perancis dengan skema Transfer Teknologi.

    1. rrc jg punya sukhoi bro, ntar klo dipakai di situasi LCS bakal mentah, rrc udah tau luar dalamnya…..produk AS mngkin slh satu cara buat gertak mereka

  2. lagu lama yg terulang kembali.mudah²an bisa jd pertimbangan seluruh stakeholder.klo pertimbangan neraca perdagangan fms bisa difokuskan pada alokasi pengadaan heli angkut personel/serang, pesawat awacs/ASuW/kargo, armament utk mengisi slot mrtt dan kontra pespur gen 5th tersedia opsi airbus, su-57 dan s-400 menunggu progres s-400 IND.

    1. S-400 tidak bisa link dengan pesawat buatan barat milik TNI dan beresiko ditembak oleh S-400 punya TNI sendiri. Terlalu berbahaya untuk dimiliki.

      Dan NASAMS yang sudah aktif digunakan juga berisiko menembak pesawat buatan Rusia milik TNI loh.

      1. NASAM kl ga salah br sistem radar dan peluncuranya yg datang rudalnya (misilnya) sendiri belum sampe (belinya ngetengan…terpisah sendiri2…maklum duit cekak)

      2. sekarang tuh dah jaman nya network centric warfare.walopun antar unit pespur/arhanud beda blok tidak bisa saling berbagi data intelijen namun ‘command center’ yg berbasis di udara/permukaan dapat berfungsi sebagai hub dalam mengidentifikasi friend or foe.banyak negara² GNB yg mengadopsi strategi gado² yg sampe saat ini masih lancar jaya tdk ditemui kendala yg berarti

    1. Alamat bakal jadi pesawat parade HUT TNI hanya untuk itu saja bukan untuk perang atau lain lain..terlalu banyak aturan dari amerika..ruwet mending beli aja pesawat tempur dari negara yang ga ruwet macam gripen NG dari swedia atau perbanyak rafale dari prancis,bosan sudah kita dengan embargo amerika

  3. Dimana-mana negara produsen selalu punya spek yang lebih tinggi. Bahkan dlm pembelian alusista Rusia sekalipun. Mereka punya varian ekspor yang apeknya di bawah punya Rusia sendiri.. untuk antisipasi perubahan politik negara yang bersangkutan.

  4. ya wes, beli dagangannya paman sam tanpa si Eagle ini, cukupkan C 130 j, CH 47. AIM 120D dgn nilai tertentu utk Waiver CAATSA trus teruskan delal dgn Putin yg delay dulu itu…syukur2 genapkan jadi se skadron sekalian

  5. Epaws fungsinya mirip RWR biasa gak berfungsi sebagai ESM (elektronik suport measure) tetapi lebih advance kalau Epaws dicabut DEWS juga mending angarannya buat tambah rafale aja yg sistemnya sdh compatible dgn sistem kita & banyak buatan Thalesnta, semoga pembuat keputusan menyadari & belajar pd kasus F 16 kita dulu g downgrade & scr specs dibawah SG

  6. Repot banget, kalau gak dikasih ya udah ambil aja rafale kesuluruhannya’ cukup beli heli dan pesawat cargo dari us, atau ancam balik bila tak di izinkan maka indonesia akan membeli su35 dengan jumlah unit yg lebih banyak, persetan dengan caatsa, mereka sanksi caatsa kita buat kita makin rapat dengan china, ini bukan eranya lagi jaga keseimbangan kawasan sebab ini bener2 urgent bila emang bener2 mengkhawatirkan china di lcs, tak pantas lg caatsa membelenggu asean bila china yang bener2 jd fokus us, jangan sampai asean babak belur bila perang china vs us bener2 terjadi.

  7. Pembelian F-15 Advanced Eagle ini adalah utk meng-counter kekuatan militer China.. Artinya, jika suatu saat TNI AU head to head dgn PLAAF, bahkan dogfight di LCS, dan F-15 rontok dihajar J-16 atau J-20, maka yg malu AS sendiri… Produknya buruk & gagal.. Mudah2an, EPAWS tetap include dlm componenr F-15EX yg akan dijual ke Indonesia…
    Kalau mereka tetap keukeuh tdk ingin menjual product tsb, alternative nya, Dasault Rafale scr keseluruhan atau, JAS 39 Gripen, SU-35 Flanker, atau MIG 35 Fulcrum, sebagai second alternative..

  8. Mesir beli Su-35 bisa tuh. Kita dipaksa dekat ke mereka, beli produk mereka yg jualnya aja setengah hati. Casing doang F-15 Ex lah isinya…. Mengundangg menhannya aja terpaksa tuh karena LCS. Kita mau aja yaaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *