Batalion Kubah Besi ke-137, bergerak dari utara ke selatan

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Batalion Kubah Besi ke-137 baru didirikan tiga tahun lalu. Namun batalion pertahanan udara Israel ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keamanan negara.

Batalion Kubah Besi ke-137 memiliki misi yang unik. Sebagai batalion bergerak, batalion ini berpindah-pindah tempat, dari utara ke selatan, sesuai kebutuhan dan di mana munculnya ancaman.

Komandan batalion, Letnan Kolonel Amos mengatakan, sama seperti negara Israel, batalionnya pun hidup dalam ketegangan. Mereka harus siaga 24 jam, kapan dan di manapun.

“Kami diminta untuk menjaga mobilitas yang tinggi,” kata Amos seperti ditulis Angkatan Udara Israel.

Senada dengan suara sang komandan, Sersan Ganika, seorang teknisi wanita anak buah Amos mengatakan, tugasnya adalah berada di tempat yang dibutuhkan.

“Kemampuan kami untuk tetap mobile sangat penting. Kami akan berada di setiap tempat di mana kami dibutuhkan,” ujar Ganika.

Ia menceritakan, belum lama ini ketegangan meningkat di sektor utara. Batalionnya pun meningkatkan kesiapannya.

“Kami siap terhadap berbagai skenario. Segera setelah pesanan operasional dikirim, kami berkemas dan pergi,” kata Ganika. Terkadang, lanjutnya, waktunya tak pernah bisa diduga.

“Pada saat melaksanakan tugas, kami tidak banyak tidur,” kata Hosen sang pengemudi menimpali.

“Kami mengendarai kendaraan berat dengan peralatan mahal dan tidak ada ruang untuk kesalahan. Kami harus tetap waspada dan sangat berhati-hati,” ujarnya.

Suatu waktu, lanjutnya, ia sedang berada di rumah dan mendapat telepon pada tengah malam.

“Hoshen, kita harus segera pindah.”

Dalam waktu 40 menit, ia pun bergegas dan sampai di markas komando utara. Dari sana batalionnya bergerak untuk menyiapkan situs peluncuran rudal.

Cerita lain disampaikan Sersan Ofek, bagian penembakan, yang sudah bergabung dua tahun dan mengikuti delapan kali penugasan.

Dia menggambarkan pekerjaannya sebagai sebuah tantangan yang memuaskan. Perannya batalion ini, kata dia, sungguh sangat dinamis.

“Saya tidak selalu tahu persis di mana saya akan berada setiap hari dan setiap jam. Dalam setiap penugasan, kami merasakan ada kebanggaan dan kepuasan yang besar,” ujarnya.

Ia mengakui, kondisi para kombatan seringkali tidak seperti yang dibayangkan. Mereka tidur di tenda dan tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga.

“Saya mengerti bahwa tugas saya adalah untuk melindungi warga Israel,” ujarnya.

Dan kebanggaan menjalankan tugas inilah yang membuat mereka bertahan.

“Jumlah orang yang telah berterima kasih kepada kami atas layanan kami, menunjukkan betapa mereka percaya bahwa kami mampu menyelesaikan pekerjaan kami,” pungkas dia.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *