Mengamati pertarungan Valor vs Defiant dalam “Flora”

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Sejak turunnya anggaran sekitar 181 juta dolar yang dibagi untuk kedua kontestan bulan Maret lalu, pertarungan sengit antara dua pesawat sayap putar (rotary wing) berteknologi terbaru terus menapak langkah.

Dalam program bertajuk FLRAA (Future Long-Range Assault Aircraft) yang kerap dilafalkan “Flora” oleh banyak kalangan internal Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) itu, hanya ada dua kontestan, yaitu pabrikan Bell dan tim gabungan Sikorsky-Boeing.

FLRAA sendiri merupakan kelanjutan dari JMR-TD (Joint Multi-Role Technology Demonstrator) yang diikuti empat pabrikan yaitu Bell, Karem Aircraft, Sikorsky-Boeing, dan AVX Aircraft.

Dari keempatnya tersisa Bell dan Sikorsky-Boeing yang dinyatakan layak masuk tahap berikutnya yaitu FLRAA yang bertujuan mengembangkan pengganti armada heli serbu (assault helicopter) UH-60 Black Hawk.

Baik FLRAA maupun JMR-TD merupakan sub program dari FVL (Future Vertical Lift), yaitu pengembangan dan pengadaan helikopter secara besar-besaran untuk menggantikan heli serbu UH-60 Black Hawk, heli serang AH-64 Apache, dan heli intai OH-58 Kiowa.

Bell mengandalkan purwarupa V-280 Valor sementara tim Sikorsky-Boeing menjagokan SB-1 Defiant.

Meski keduanya memiliki kabin yang lebih lega dari heli Black Hawk yang akan digantikan dan sama-sama ditenagai oleh sepasang mesin turboshaft, perbedaan keduanya kontras dan radikal.

V-280 Valor adalah pesawat sayap putar dengan konfigurasi rotor ayun (tiltrotor) sementara SB-1 Defiant menampilkan rotor ganda koaksial kontra arah putar (contra-rotating coaxial rotor) yang dilengkapi dengan baling-baling pendorong tunggal (pusher propeller) di bagian belakang.

SB-1 Defiant
Dana Clarke/US Army

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan tentu saja masing-masing pabrikan mengumbar produknya yang paling murah, berisiko rendah, serta unggul dalam melakoni misi-misi yang dituntut US Army.

Yang berhasrat jadi pemenangnya, tuntutan berat sudah pasti harus dilampaui. Intinya, semua misi yang dilakukan Black Hawk harus mampu dilakoni dengan parameter yang serba lebih: lebih cepat, lebih besar kapasitasnya dan lebih mudah diterbangkan.

Tapi tak hanya itu. Penerus Black Hawk kelak juga dituntut mengusung fitur serta kapabilitas baru seperti pengendalian armada drone (swarm drone control), serta sistem elektronik yang mudah di-upgrade (open system).

Hingga pengumunan pemenang yang diproyeksikan tahun 2022 nanti, Valor maupun Defiant akan menjalani proses pematangan desain.

Proses yang resminya bertajuk CD&RR (Competitive Demonstration & Risk Reduction) ini diharapkan akan memperkecil resiko kala proses para produksi massal dimulai.

Antonius KK

editor: ron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *