Timbul tenggelam jet tempur Rafale untuk Indonesia

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Medio Januari lalu, surat kabar La Tribune di Perancis memberitakan bahwa Indonesia  tertarik membeli 48 jet tempur Rafale, empat kapal selam Scorpene buatan Prancis, serta dua kapal perang jenis korvet kelas Gowind.

Kabar ini muncul usai Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melakukan lawatan ke Paris pada 11-13 Januari lalu.

Meski Kementerian Pertahanan RI kemudian menegaskan bahwa pembelian alutsista tersebut belum terjadi, namun menarik dicatat bahwa kabar tawaran jet tempur Rafale untuk Indonesia memang timbul tenggelam dalam satu dekade terakhir.

Meski demikian, wacana pembelian pesawat tempur canggih buatan Perancis ini seolah tak bosan hinggap di setiap momen tertentu, utamanya ketika rencana realisasi pembelian alutsista baru akan diwujudkan.

Dari segi tampilan, jet tempur omnirole buatan Dassault Aviation ini memang memukau. Bentuknya mencerminkan kecanggihan yang artistik. Namun tak hanya aspek estetika yang menonjol dari Rafale. Tim insinyur Dassault piawai meramu desain airframe sehingga menghasilkan compact fighter yang mampu membawa muatan (senjata) banyak dengan manuver yang tetap lincah.

Berbobot kosong sekira 10 ton, Rafale mampu mengusung muatan hingga 14,5 ton (kombinasi bahan bakar internal serta muatan internal baik senjata maupun tangki eksternal) dengan tetap lincah bermanuver.

Jarang ada jet tempur modern yang mampu mengusung beban satu setengah kali bobot kosongnya tanpa mengorbankan kinerja aerodinamiknya.

Rafale dibuat dalam tiga varian utama, yaitu Rafale C dan Rafale M yang berkursi tunggal (single seat), serta Rafale B yang berkursi ganda (dual seat/tandem).

Rafale B at Halim AFB
Roni Sontani/AR

Rafale M adalah varian khusus untuk dioperasikan dari kapal induk dan sejauh ini hanya dioperasikan oleh Aeronavale (Penerbangan AL Perancis).

Rafale B yang berkemampuan tempur penuh (fully combat capable) tak hanya dipakai untuk konversi saja. Untuk misi-misi berisiko tinggi, keberadaan dua awak dipercaya bisa meningkatkan probabilitas kesuksesan misi.

Selain kemampuan angkut senjata dan manuvernya yang lincah, Rafale dijejali berbagai perangkat avionik yang canggih serta mampu memadukannya dalam satu sistem manajemen tempur yang memudahkan penerbangnya mengoperasikan pesawat sekaligus mengantar senjata-senjata bawaannya ke target yang dituju secara akurat.

Selain dibekali radar canggih RBE2-AA (adar à Balayage Electronique 2 – active array) yang sudah bertipe AESA (active electronically-scanned array), Rafale juga memiliki perangkat penjejak pasif terintegrasi yang konon sangat lengkap dan canggih.

Sensor pasif Rafale yang dinamakan OSF (Optronique Secteur Frontal) terdiri dari  CIU (Combat Identification Unit) berupa kamera TV CCD 3D high resolution berjangkauan 50 km, laser rangefinder berjangkauan 33 km dan IRST/FLIR dual-band imaging sensor.

Saat cuaca cerah, IRST Rafale bisa mengendus target dari jarak 130 km. Gambarannya, pesawat tempur yang tengah terbang di langit Bandung bisa dijejak oleh IRST Rafale yang tengah melayang di langit Jakarta tanpa perlu menghidupkan radarnya sehingga keberadaan Rafale sulit diketahui.

Rafale juga dibekali perangkat perang elektronik (EWS/electronics warfare suite) yang tertanam (tidak perlu membawa pod khusus) yaitu SPECTRA (Système de Protection et d’Évitement des Conduites de Tir du Rafale).

Untuk memperpanjang jangkauan terbang, jet tempur bermesin ganda ini dibekali fixed refueling probe untuk pengisian bahan bakar di udara (air refueling) sistem probe-drogue.

Rafale
USAF

Sesuai prinsip kemandirian Perancis, Rafale dibekali segudang persenjataan buatan Perancis sendiri. Mulai dari rudal udara ke udara MICA, bom berpemandu Hammer, hingga rudal jelajah SCALP-EG.

Namun demikian, Rafale juga mampu dipersenjatai bom berpemandu macam GBU-12 Paveway buatan Amerika Serikat (AS).

Software avionik dan manajemen tempur terbaru yang sudah dirilis saat ini adalah F3R, dengan rilis berikutnya F4 sudah menanti masuk operasional AU Perancis sebentar lagi.

Ada satu hal menarik dari Rafale, yaitu terbebas dari ITAR (International Traffic in Arms Regulations) dan tentu saja CAATSA (Countering American Adversary Through Sanctions Act), dua undang-undang Amerika Serikat yang kerap jadi pengganjal pembelian senjata di luar AS. Artinya, pembeli Rafale tetap bisa dikategorikan “tidak mengganggu kepentingan AS”.

Antonius KK

editor: ron

One Reply to “Timbul tenggelam jet tempur Rafale untuk Indonesia”

  1. sudah jelas bagi kita bahwa Upaya amerika menjegal pembelian su-35 tni au adalah untuk mempertahankan supremacy udara sekutu mereka Di asia tenggara macam singapura dan asutralia. Kebijakan iming iming hibah f-16 dengan radar alakadar Dan persenjataan kelas pisau dapur terus diumbar… Mau beli pesawat lain yamg generasi 4++ juga tetap dalam frame kebijakan amerika seperti itu…. jika tidak ya siap terima embargo!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *