J-15 dan Kapal Induk Shandong, Dibuat China Setelah Membeli Su-33 dan Kuznetsov dari Ukraina

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Banyak jalan menuju Roma, Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Dua penggabungan peribahasa ini kiranya dapat dipakai untuk menggambarkan langkah agresivitas China membangun kekuatan militernya.

China melakukan berbagai cara untuk mengakselerasi kemajuan teknologinya, termasuk membuat jet tempur dalam negeri dan kapal induk dengan mencontoh produk luar negeri yang sudah jadi.

Tak sungkan-sungkan, China berhasil membuat jet tempur berbasis kapal induk, J-15 Flying Shark yang sangat mirip dengan Su-33 buatan Rusia. J-15 (NATO: Flanker-X2) dibuat oleh pabrik Shenyang Aircraft Corporation.

Dari mana China bisa mendapatkan Su-33? Tidak lain adalah dengan cara membeli prototipe Su-33 yang belum selesai pengerjaannya, yakni T-10K-3 dari Ukraina. Pesawat ini dibeli tahun 2001 dan kemudian dipelajari seluruh detailnya oleh pabrik Shenyang dan Institut 601.

Setelah semua hal berhasil dipetakan, proyek pembuatan J-15 pun dimulai tahun 2006. Tak butuh waktu lama, hanya berselang tiga tahun prototipe pertama J-15 dengan mesin Al-31F dari Rusia dan avionik dari J-11B ini sudah bisa mengudara pada 31 Agustus 2009.

Ketika foto-foto dan video mengenai J-15 beredar pada Juli 2010, publik tercengang karena pesawat ini mirip sekali dengan Su-33.

J-15 on board Liaoning
China source

Dua tahun berselang, Su-33 sudah bisa mengudara dari kapal induk pertama China yaitu Liaoning (Type 001, nomor lambung 16 atau CV-16). Kapal ini merupakan hasil pembelian China atas kapal induk Kuznetsovclass (Varyag) yang belum selesai dikerjakan. China membelinya juga dari Ukraina tahun 1998.

Akan halnya Shandong, merupakan kapal induk pertama buatan dalam negeri China. Kapal induk yang cetak birunya sama dengan Liaoning ini dibuat oleh China hanya dalam tempo tiga tahun dua bulan saja. Yaitu dihitung sejak peletakan lunas pertama pada Maret 2015 dan memulai uji pelayaran pada Mei 2018.

Setahun kemudian, kapal induk kedua yang dimiliki Angkatan Laut China (PLAN) dengan nomor lambung 17 (Type 002, atau CV-17) ini sudah resmi masuk jajaran dinas.

Kapal induk Shandong dibuat oleh galangan Dalian Shipbuilding Industry di Provinsi Shandong. Kapal ini diresmikan penggunaannya di PLAN oleh Presiden China Xi Jinping pada 17 Desember 2019.

J-15 and Liaoning
Xinhua

Shandong memiliki dimensi panjang 315 m dan beam 75 m. Kapal induk berbobot mati 47.000 ton ini dapat menampung 32 J-15, 6 heli Changhe Z-18, dan 2 heli Harbin Z-9.

Berita terakhir menyebutkan, jet-jet tempur J-15 mulai berlatih melakukan aksi lepas landas dan pendaratan secara intensif di kapal induk Shandong.

Dalam video yang dirilis CCTV terlihat bagaimana Negeri Tirai Bambu berupaya menunjukkan kekuatan taringnya di lautan lepas. China memang telah melakukan suatu proyeksi ke depan untuk dapat mengirimkan armada kekuatan lautnya ke lautan lepas.

Dengan segala akselerasi kemajuan dan penguasaan teknologi militer, tak dapat disangkal bila China tumbuh menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia.

Shandong CV-17
Reddit

China memiliki banyak sumber daya untuk menjadi besar. Salah satu yang menjadi modal paling utama, adalah jumlah penduduknya yang terbesar di dunia yang mencapai lebih 1,4 miliar orang.

Sumber daya manusia yang besar ini jelas tak akan terbendung ketika dapat digerakkan seluruhnya secara optimal di berbagai sektor kehidupan manusia. Termasuk dalam hal ini perkuatan militer dengan ditopang oleh perekonomian yang kuat.

Roni Sontani

One Reply to “J-15 dan Kapal Induk Shandong, Dibuat China Setelah Membeli Su-33 dan Kuznetsov dari Ukraina”

  1. Sulit membendung cina dgn potensi 1.4 miliar manusianya memiliki infrastruktur teknologi tinggi, apa saja ingin dibuatnya dgn efektip dan efisien. AS hrs memerlukan waktu berjaya 250-300 tahun lamanya. Faktanya cina hanya memerukan waktu 25-30 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *