Tiga Alasan Ini Jadi Sebab Heli Super Puma Tidak Akan Diganti Hingga 2030

AIRSPACE-REVIEW.com – Airbus Helicopters telah menyerahkan produksi helikopter keluarga Super Puma ke-1.000 kepada pelanggannya. Heli tersebut diserahkan kepada pemesannya yakni Kepolisian Federal Jerman. Serah terima dilaksanakan di fasilitas Airbus, Marignane, wilayah selatan Perancis pada 6 September lalu.

Dengan diserahkannya unit ke-1.000 Super Puma, timbul pertanyaan apakah Airbus Helicopters masih akan melanjutkan produksi heli kelas medium-berat ini?

Untuk diketahui, Super Puma yang awalnya diproduksi oleh Aérospatiale (kemudian dilanjutkan oleh Eurocopter dan kini oleh Airbus Helicopters) terbang perdana pada 13 September 1978. Jadi, kalau dihitung hingga saat ini, heli bermesin ganda ini sudah berusia 41 tahun.

Keluarga Super Puma dibuat dalam dua versi, sipil dan militer, yaitu untuk H215 dan H225. Kedua heli ini banyak digunakan di sejumlah negara. Tercatat sedikitnya 13 negara menggunakan versi sipil dan 23 negara menggunakan versi militernya.

Indonesia, dalam hal ini TNI AU, termasuk salah satu pengguna keluarga Super Puma. Selain AS/NAS-332 Super Puma juga yang terbaru adalah H225M Cougar melalui pengadaan dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

H225M-Cougar
Istimewa

Beberapa tahun lalu, di Airbus Helicopters sempat muncul wacana untuk menyiapkan calon penerus Super Puma. Heli baru dengan kode X6 dan berbobot 11 ton ini, dirancang untuk dapat menggantikan Super Puma mulai tahun 2025.

Proses riset dan perancangan konsep pun telah dijalankan. Namun demikian, pada 2018 di bawah kepemimpinan CEO Airbus Helicopters Guillaume Faury, rencana tersebut dibatalkan. Mengapa?

Sedikitnya ada tiga alasan dijegalnya proyek X6. Pertama, menurut hasil survei Airbus Helicopters, pasar Super Puma masih bagus paling tidak hingga tahun 2030. Pelanggan puas dengan performa Super Puma. Oleh karenanya, produksi heli ini masih akan terus digenjot oleh Airbus Helicopters.

X6-concept
Airbus Helicopters

Kedua, program pengembangan X6 tidak cukup menyakinkan bahwa heli ini dapat mempertahankan kesetimbangan bisnis dan peluang pasarnya.

Hasil studi kelayakan heli X6 yang diluncurkan tahun 2015, menunjukkan bahwa tidak banyak minat terhadap pasar helikopter kelas berat yang baru. (Airbus Helicopters mengelompokkan Super Puma sebagai heavy helicopters).

Ketiga, teknologi yang diusulkan pada heli ini juga dinilai belum matang untuk diterapkan.

Rancangan X6 sendiri sebenarnya menawarkan beberapa teknologi baru, seperti kendali fly-by-wire, suara kebisingan yang rendah, dan tingkat konsumsi bahan bakar yang rendah.

Namun demikian, teknologi-teknologi yang akan digunakan ini masih menemui berbagai kendala. Termasuk penyediaan teknologi fly-by-wire dan mesin seperti yang diharapkan.

airbus-H225-Super-Puma
Istimewa

 “Jadi, tidak ada alasan untuk kembali membangkitkan program lama yang telah dihentikan. Selain itu, saya juga mendapatkan masukan dari para pelanggan bahwa Super Puma merupakan heli yang fantastis,” ujar CEO Airbus Helicopter Bruno Even seperti dikutip FlightGlobal saat penyerahan Super Puma unit ke-1.000.

Apa yang dilakukan Airbus saat ini, lanjutnya, adalah terus melakukan perbaikan yang signifikan sesuai kebutuhan pelanggan. Di sinilah kunci bagi Airbus untuk meningkatkan performa dan daya saing Super Puma.

“Super Puma masih akan terus menyandang nama leluhurnya. Selepas 2030, kami masih akan menawarkan kemampuan-kemampuan baru dari heli ini,” pungkasnya.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *