Drone Orion Rusia Akan Mulai Berdinas Akhir Tahun Ini

AIRSPACE-REVIEW.com – Satu per satu proyek drone dalam negeri Rusia mulai dituntaskan. Selain drone ringan Korsar, ajang MASK 2019 juga menghadirkan untuk pertama kalinya purwarupa terbang drone kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance) bernama Orion.

Proyek Orion mulai digulirkan Kementerian Pertahanan Rusia pada 2011 dengan nama sandi ‘Inker’.

Saat itu yang menjadi pemenang tender adalah Transas. Namun pada 2015 perusahaan ini mengalami krisis keuangan yang akhirnya diakuisisi oleh IFK Sistema.

Selanjutnya, IFK Sistema melalui anak perusahaannya Kronstadt Technologies (KT) melanjutkan pembuatan purwarupa Orion.

Pada musim semi 2016, Orion dikabarkan telah mengudara untuk pertama kalinya. Baru pada gelaran MAKS 2017 selubung pengembangan Orion mulai disingkap walau hadir dalam wujud mock-up.

Secara tampilan desain Orion tak jauh berbeda dengan drone di kelasnya seperti MQ-9 Reaper dari AS atau CASC CH-4 Rainbow dari China.

Mengadopsi konfigurasi desain sayap utama yang membentang lurus tepat di tengah badan dipadu dengan sirip ekor berbentuk V dengan ukuran besar. Seluruh perangkat roda pendaratnya bisa ditarik ke dalam.

Orion memiliki panjang 8 m, tinggi 2 m, dan rentang sayap 16 m. Orion memiliki berat lepas landas maksimum (MTOW) mencapai 1 ton. Untuk penggerak, drone ini menggunakan mesin turboprop Saturn 36MT berdaya 100 hp.

Kecepatan terbang jelajah Orion mencapai 200 km/jam dengan ketinggian terbang maksimum 7.500 m. Jangkauan operasi hingga 250 km atau dengan durasi terbang selama 24 jam.

Roni Sontani

Salah satu fitur unggulan Orion adalah kelengkapan electro impulse de-icing system yang memungkinkannya dapat beroperasi di kondisi iklim ekstrem seperti di wilayah kutub utara.

Didapuk untuk melaksanakan misi intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR), Orion dapat dikonfigurasi untuk membawa berbagai muatan hingga 200 kg.

Perlengkapan misi yang dibawa Orion meliputi menara infra merah FLIR (forward looking infra-red), SAR (synthetic aperture radar) dan kamera berresolusi tinggi.

TASS melaporkan, pada akhir 2019 Orion akan mulai berdinas di jajaran Militer Rusia.

Kehadiran Orion akan melepaskan Angkatan Bersenjata Rusia dari ketergantungan drone intai startegis buatan luar negeri.

Seperti diketahui, Militer Rusia saat ini masih mengandalkan drone IAI Searcher Mk.2 dari Israel. Sebagian di antaranya dibuat di bawah lisensi yang mendapatkan nama lokal Forpost.

Roni Sontani

Dalam gelaran MAKS 2019 Kronstadt Technologies juga menghadirkan versi ekspor bernama Orion-E. Target penggunanya yakni negara di kawasan Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.

Ke depannya Kronstadt Technologies juga akan mengembangkan Orion versi ISR bersenjata (UCAV). Drone ini akan bersaing ketat dengan drone battle proven CH-4 dari China dan MQ-9 dari Amerika Serikat.

Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron raider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *