Indonesia Dukung Kerja Sama Keselamatan dan Navigasi Penerbangan di Asia Pasifik

ANGKASAREVIEW.COM – Otoritas penerbangan Indonesia yang diwakili oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama para delegasi Indonesia siap dukung inisiatif kerja sama negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Kerja sama tersebut khususnya pada bidang keselamatan dan navigasi penerbangan.

Kerja sama dengan negara-negara di satu kawasan sangat perlu, mengingat bisnis penerbangan saat ini sudah melampaui lintas negara. Agar keberlangsungan bisnis penerbangan bisa terjadi, diperlukan kesamaan persepsi dan operasional antara otoritas penerbangan masing-masing negara. Demikian disampaikan Dirjen Hubud Kemenhub Agus Santoso saat memimpin delegasi dalam Konferensi Tingkat Menteri Perhubungan di Kawasan Asia Pasifik yang diselenggarakan di Beijing, China, 31 Januari – 1 Februari 2018.

“Saat ini paradigma penerbangan sudah berubah dari yang dulunya saling fokus pada peningkatan keunggulan masing-masing negara menjadi fokus pada kerja sama dan kolaborasi antar negara dan industri penerbangan untuk mencapai peningkatan standar terkait keselamatan dan keamanan,” imbuhnya.

Menurutnya, hal ini sesuai dengan inisiatif Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), yakni ‘no country left behind’. Hampir semua kawasan di dunia sudah melakukan hal tersebut, utamanya Asia Pasifik perlu ditingkatkan sebab pertumbuhan jumlah penumpang, populasi pesawat terbang dan jumlah pergerakan pesawat mengalami akselerasi pertumbuhan terbesar di dunia.

Baca Juga: Sinergitas AirNav-INACA Tingkatkan Kualitas Layanan Navigasi Penerbangan

Untuk itu diperlukan pertemuan tingkat Menteri Perhubungan  yang membahas  isu-isu umum terkait aspek penting mengenai keselamatan dan navigasi penerbangan untuk mengembangkan kerja sama dan kolaborasi pada level pembuatan kebijakan.

BACA  Saingi Tornado-G MLRS dari Rusia, Ukraina Lansir Verba Pengganti BM-21 Grad

“Indonesia sepakat dengan draft  untuk  mendorong pihak Pemerintah dan pihak industri di kawasan  Asia Pasifik agar melakukan sharing best practice mengenai manajemen keselamatan melalui Grup Keselamatan Penerbangan Kawasan (Regional Aviation Safety Group),” ujar Agus.

Menurut Agus, Indonesia saat ini sudah mempunyai kesiapan yang lebih dari cukup untuk bekerja sama dengan negara-negara di kawasan ini. Saat ini Indonesia beberapa pengembangan bidang penerbangan dan telah mencapai keberhasilan.

Beberapa keberhasilan yang sudah dicapai di bidang keselamatan penerbangan di antaranya adalah peningkatan kapabilitas pengawasan keselamatan penerbangan secara progresif yang dinilai ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM), tercapainya nilai pemenuhan (Effective Implementation/ EI Score) terhadap audit ICAO (Universal Safety Oversight Audit Programme/ USOAP) yang nialainya jauh di atas rata-rata global aviation safety plan.

Indonesia juga telah memiliki tatanan navigasi penerbangan nasional dan bandar udara nasional sebagai bagian dari rencana nasional, serta semua bandar udara internasional Indonesia telah disertifikasi.

Indonesia telah mengimplementasikan peralihan sistem Aeronautical Information Service (AIS) menjadi sistem Aeronautical Information Management (AIM) melalui sistem berbasis web dengan situs www.aimindonesia.dephub.go.id. Sistim navigasi Performance Based Navigation (PBN)  juga telah diterapkan di Indonesia.

BACA  CN235-220 MPA, Pesawat Patroli Maritim Tercanggih Generasi ke-3 Skuadron Udara 800 Penerbal

Baca Juga: Ditjen Hubud dan Operator Penerbangan Berkomitmen Tingkatkan Keselamatan Penerbangan di Papua

Selain itu, Indonesia telah menerapkan kerja sama sipil militer di bidang pelayanan navigasi penerbangan melalui penandatangan MoU antara AirNav dan TNI AU yang di dalamnya mengatur tentang operasi penerbangan pada beberapa bandar udara dan pangkalan udara yang digunakan secara bersama;  penggunaan ruang udara; serta Pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) dan Pendayagunaan Aset.

Di Indonesia, ADS-B untuk ATS surveillance separation (Tier-1) telah diterapkan di Jakarta FIR dan Ujung Pandang FIR. selain itu juga telah  berpartisipasi pada penerapan distributed multi-nodal ATFM ops trial bersama negara-negara Asia Timur pada tiga bandara Indonesia  yang tersibuk, yakni Bandara  Soekarno-Hatta Tangerang, Juanda Surabaya, dan Ngurah Rai Denpasar. Indonesia saat ini dalam proses mentransformasi sistem manajemen slot ke ATFM CDM.

Kawasan Asia Pasifik dengan  lalu lintas penumpang sebesar 32 persen dari penerbangan global dunia (global passenger traffic) dan rata-rata pertumbuhan lalu lintasnya sebesar 9 persen tiap tahun. Terdapat 11 bandar udara di kawasan Asia Pasifik yang masuk pada kategori 25 bandar udara tersibuk di dunia untuk pergerakan penumpang dan 7 bandar udara yang masuk pada kategori 15 bandar udara dengan pergerakan kargo tertinggi.

BACA  Menanti Kehadiran Tank Boat X18 Antasena

Perkembangan penerbangan di kawasan Asia Pasifik diprediksi akan semakin berkembang pesat mengingat kawasan ini merupakan rumah bagi 40 persen kelas menengah dunia dan akan meningkat menjadi di atas 65 persen pada tahun 2033 nanti.

Adanya Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA), liberalisasi pelayanan udara, pertumbuhan maskapai penerbangan bertarif rendah, peningkatan kapasitas bandara yang ada serta perkembangan tujuan wisata yang baru di kawasan Asia Pasifik merupakan sebagian dari faktor penyebab peningkatan penerbangan antara negara.

Baca Juga: Keselamatan Penerbangan Nasional Meningkat Tajam Sepanjang 2017

Dengan semua faktor pemicu tersebut, diprediksi akan meningkatkan jumlah penumpang di Asia Pasifik yang saat ini 2.2 juta milyar penumpang menjadi lebih dari 5 milyar penumpang dalam dua dekade ke depan. oleh karena itu Penerbangan Indonesia yang memiliki potensi market besar dan wilayah luas siap berlari cepat paralel dengan progresifitas pertumbuhan penerbangan Asia Pasifik ini sebagaimana perintah presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan. FERY SETIAWAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *