Ditanya Soal Solusi Pilot Nganggur, Ini Jawaban Ketua STPI Curug

ANGKASAREVIEW.COM – Menjelang akhir tahun 2017, dunia penerbangan nasional dikejutkan dengan pemberitaan bahwa terdapat 1.200 pilot ab initio yang masih belum mendapatkan pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 250 di antaranya merupakan penerbang muda lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug.

Beberapa hari lalu Ketua STPI Curug, Capt. Novyanto Widadi, S.AP, MM pun sempat ditanya Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengenai solusi terkait permasalah pilot nganggur tersebut.

“Kemarin saya ditanya Menteri Perhubungan dalam paparannya di sekolah laut. Jadi Ketua STIP memberikan pemaparan, setelah selesai  kemudian ada tanya jawab. Yang ditanya, pilot nganggur solusinya apa Pak Novy?” cerita Capt. Novy kepada Angkasa Review.

Ia pun menjawab bahwa STPI Curug memiliki dua solusi terkait permasalahan tersebut. Langkah pertama, STPI Curug akan merekrut lulusan terbaru untuk diberikan kursus agar bisa mendapatkan ATPL (Airline Transport Pilot License).

BACA  Punya Armada Baru, Singapore Airlines Invasi London dan Hongkong

Baca Juga: Kabar Gembira, STPI Akan Didik Santri Jadi Pilot dan Teknisi Secara Gratis

“Nanti tanggal 27 Januari akan ada wisuda 50 penerbang. 50 ini setelah wisuda langsung saya masukkan ke dalam ATPL course selama satu atau dua bulan, nanti dua kelas,” terang Capt. Novy.

Kedua, lulusan-lulusan yang beberapa tahun sebelumnya juga akan direkrut dan diseleksi untuk diikutkan dengan program multi-engine.

“Berikutnya lagi yang kakak-kakak kelas mereka itu akan kita rekrut lagi, akan kita seleksi untuk program multi-engine. Tidak menggunakan simulator, tapi dengan pesawat Piper Seneca,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Menhub pun mempertanyakan soal kemampuan STPI dalam merekrut para lulusannya untuk diberi pembekalan tersebut. Ketua STPI pun memaparkan bahwa untuk program ATPL kampus akan merekrut 100 lulusan yang terbagi dalam dua kelas. Sedangkan untuk program multi-engine STPI mungkin hanya akan merekrut beberapa puluh lulusan saja.

BACA  12 Jet F-16 TNI AU dan USAF Latihan Tempur Udara di Manado

Baca Juga: Pertama dalam Sejarah! Rusia Persiapkan 16 Gadis Jadi Pilot Militer

“Tapi Pak Menteri minta 200. Berarti saya harus melakukan revisi anggaran,” ungkapnya.

Dalam penjabarannya, untuk program ATPL biaya yang perlu dikeluarkan adalah Rp10 juta per orang, sedangkan program multi-engine  memerlukan Rp100 juta per orang.

“200 kan enggak harus multi-engine-nya 100 orang juga, makanya saya harus hitung lagi. Solusinya adalah saya kan perbanyak di ATPL-nya, yang multi-engine saya seleksi,” tegasnya.

Walau belum mampu untuk menuntaskan permasalah lulusan penerbang yang masih menganggur, namun ini merupakan langkah nyata STPI untuk membantu lulusan penerbang yang masih nganggur.

“Kalau yang ATPL kan dari lulusan terakhir langsung direkrut, kalau yang terbang (multi-engine) itu kita seleksi lagi, kesehatannya dan segala macam,” jelasnya.

BACA  Boeing Disiram Rp 53 Triliun untuk Air Force One Baru

Baca Juga: Saat Dua Pilot Bertemu Jajaki Kerja Sama Diklat Penerbangan

Seraya menambahkan penjelasan Capt. Novy, Ahmad Kosasih, Kepala Divisi Pengembangan Usaha STPI, Curug melontarkan pernyataan bahwa sekolah negeri harus bertanggung jawab terhadap lulusannya. “Kita pengen lulusan kita beda dengan yang lain. Kalau yang lain cuma CPL IR, ya kita kan punya kemempuan untuk multi enjin. Untuk yang multi enjin peluang penyerapan lebih tinggi,” sambung Kosasih.

Sejatinya, STPI Curug adalah sekolah tinggi yang paling sedikit bermasalah dengan lulusan dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Kedinasan lainnya yang berada di bawah Kementerian Perhubungan. FERY SETIAWAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *