Sebut Xi Jinping punya ambisi besar kuasai Taiwan, Trump desak produsen chip pindah ke AS
AFP AIRSPACE REVIEW – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak para produsen semikonduktor (chip) terkemuka, khususnya dari Taiwan, untuk segera memindahkan fasilitas produksi mereka ke Amerika Serikat. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran atas ambisi China untuk mengambil alih Taiwan.
Desakan ini disampaikan Trump setelah dirinya melakukan pembicaraan dengan Presiden China, Xi Jinping.
Dalam percakapan tersebut, seperti diberitakan IBT (17/5/2026), Trump memastikan betapa besarnya ambisi Beijing untuk menguasai pulau yang memiliki pemerintahan mandiri tersebut.
Sebelum pertemuan kedua pemimpin negara itu berlangsung, Xi Jinping bahkan dilaporkan sempat memberikan peringatan langsung kepada sang Presiden AS terkait isu sensitif ini.
Trump menegaskan bahwa situasi di Selat Taiwan saat ini memang sedang memanas. Kendati demikian, ia menetapkan target yang agresif bagi industri domestik.
Trump berharap, pada akhir masa jabatannya nanti, sekitar 40 hingga 50 persen dari total bisnis produksi chip global sudah beroperasi di dalam negeri Amerika Serikat.
Langkah strategis ini dinilai sangat krusial mengingat chip semikonduktor merupakan komponen yang sangat esensial bagi perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta berbagai kemajuan teknologi modern.
Selama ini, Taiwan dikenal sebagai pusat manufaktur chip terbesar di dunia. Dominasi mutlak Taiwan dalam industri ini jugalah yang disebut para analis menjadi salah satu faktor utama mengapa China memiliki ketertarikan strategis yang sangat besar terhadap pulau tersebut.
Pernyataan Trump ini memicu beragam reaksi di kalangan warga Amerika Serikat. Sebagian masyarakat merasa khawatir dengan implikasi geopolitik dari pernyataan tegas sang presiden di tengah ancaman dan peringatan dari Xi Jinping.
Namun di sisi lain, banyak pihak yang mendukung penuh kebijakan tersebut.
Kelompok pendukung menilai langkah ini sebagai keputusan yang cerdas demi menjaga keamanan nasional dan mempertahankan dominasi teknologi AS.
Dengan memindahkan basis produksi ke dalam negeri melalui prinsip “America First”, AS diharapkan tidak lagi bergantung pada Taiwan di saat China terus membayangi wilayah tersebut. (PN)

