Jet tempur Gripen E/F pertama Thailand resmi masuk jalur produksi di Swedia
Saab AIRSPACE REVIEW – Proyek pengadaan jet tempur generasi terbaru Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Thai Air Force/RTAF) resmi memasuki babak baru. Jet tempur Saab Gripen E/F pesanan pertama Thailand kini telah resmi masuk ke dalam lini perakitan di fasilitas manufaktur Saab di Linköping, Swedia.
Untuk memantau langsung tonggak sejarah ini, delegasi tinggi RTAF yang dipimpin oleh Panglima Angkatan Udara Thailand, Air Chief Marshal (ACM) Seksan Kantha, melakukan kunjungan kerja ke Swedia minggu ini.
Selain meninjau progres perakitan di pabrik Saab, ACM Kantha selaku Ketua Komite Eksekutif Bersama Thailand-Swedia juga menghadiri pertemuan tingkat tinggi di markas besar Administrasi Materiel Pertahanan Swedia (Defence Materiel Administration/FMV) di Stockholm pada 13 Mei 2026.
Pertemuan tersebut membahas kerja sama pertahanan jangka panjang serta perencanaan untuk fase pengadaan berikutnya.
Pengadaan ini merupakan bagian dari proyek fase pertama bertajuk “Peace Burapha 1” yang kontraknya telah ditandatangani pada Agustus 2025 lalu.
Nilai kontrak fase pertama untuk empat unit jet tempur ini mencapai 19,5 miliar baht (sekitar Rp4,27 triliun).
Kontrak tersebut mencakup pengadaan tiga unit varian kursi tunggal (Gripen E) dan satu unit varian kursi ganda (Gripen F), lengkap dengan peralatan pendukung, pelatihan, serta paket investasi teknologi (offset).
Jet tempur modern generasi keempat plus ini dijadwalkan akan mulai dikirim ke Thailand pada tahun 2029 mendatang.
Gripen E/F diproyeksikan untuk menggantikan armada jet tempur F-16A/B milik Skadron 102 (Wing 1) RTAF di Nakhon Ratchasima yang usianya sudah kian menua.
Dalam rencana jangka panjangnya, Thailand menargetkan untuk memiliki satu skuadron penuh yang terdiri dari 12 pesawat Gripen E/F.
Fase kedua pengadaan rencananya akan diusulkan pada tahun anggaran 2028 untuk menambah empat unit armada lagi.
Dibandingkan dengan 11 unit armada Gripen C/D yang saat ini sudah dioperasikan oleh Thailand di Surat Thani, Gripen E/F menawarkan lompatan teknologi yang sangat besar.
Jet tempur ini dilengkapi dengan mesin GE F414G yang lebih bertenaga (meningkatkan daya dorong hingga 25%), kapasitas bahan bakar yang lebih besar, sistem avionik mutakhir, serta sistem radar AESA (Active Electronically Scanned Array).
Selain itu, pesawat ini dirancang untuk mendukung network-centric warfare modern dengan kemampuan peperangan elektronik (electronic warfare) yang canggih serta konektivitas data link waktu nyata (real-time).
Kerja sama antara Bangkok dan Stockholm ini juga membuka jalan bagi transfer teknologi pertahanan, pelatihan, dan pengembangan industri dirgantara bagi Negeri Gajah Putih. (RF)

