Netanyahu: Israel akan hentikan bantuan militer Amerika Serikat dalam 10 tahun
IAF AIRSPACE REVIEW – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana ambisius untuk sepenuhnya mengakhiri ketergantungan Israel terhadap bantuan keuangan Amerika Serikat yang selama ini diberikan melalui perjanjian kerja sama militer.
Dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Amerika, CBS News, Netanyahu menyatakan bahwa pengurangan bantuan militer senilai 3,8 miliar USD (sekitar Rp 61 triliun) per tahun tersebut akan dilakukan secara bertahap selama sepuluh tahun ke depan.
Netanyahu menekankan bahwa Israel harus mulai bergerak untuk menjadi negara yang mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung pada dukungan langsung dari Amerika Serikat.
Ia mengungkapkan rencana ini telah didiskusikan dengan Presiden AS Donald Trump, dan Israel siap untuk memulai masa transisi tersebut secepat mungkin.
Langkah ini diambil di tengah pengamatan Netanyahu terhadap perubahan dinamika politik di Amerika Serikat.
Ia mencatat adanya penurunan dukungan terhadap Israel di kalangan warga Amerika, yang menurutnya dipicu oleh misinformasi dan manipulasi di media sosial.
Saat ini, pendanaan militer dari AS diatur dalam perjanjian 10 tahun untuk periode 2019–2028 dengan total nilai mencapai 38 miliar USD. Alokasi dana tersebut terbagi menjadi dua fokus utama, yaitu 33 miliar USD untuk pengadaan senjata (termasuk jet tempur F-35) dan 5 miliar USD untuk pengembangan sistem pertahanan rudal.
Secara historis, Israel merupakan penerima bantuan AS terbesar di dunia. Bantuan ini melonjak drastis hingga miliaran dolar pasca penandatanganan Perjanjian Camp David pada akhir 1970-an.
Sejak 2019, jumlah bantuan dasar tahunan meningkat menjadi 3,8 miliar USD, yang kini oleh Netanyahu diusulkan sebagai titik puncak sebelum mulai dikurangi setiap tahunnya.
Fokus Kerja Sama Teknologi
Meskipun bantuan finansial langsung akan dihentikan, Netanyahu memandang masa depan hubungan Israel-AS akan bergeser ke arah kerja sama teknologi tingkat tinggi.
Fokus kolaborasi ke depan akan mencakup bidang-bidang strategis seperti kecerdasan buatan (AI), sektor energi, dan komputasi kuantum.
Di saat yang sama, Kementerian Pertahanan Israel tetap melanjutkan penguatan militer jangka pendek dengan menyetujui pembelian tambahan jet tempur F-35I dan F-15IA dari Amerika Serikat untuk membentuk dua skadron baru. (RF)

