Butuh 200 B-21 untuk hadapi China, perang di Iran buktikan pengebom siluman sangat ampuh

B-21 dibandingkan B-2Via X

AIRSPACE REVIEW – Dua kampanye militer terbaru Amerika Serikat di Iran, yaitu Operations Midnight Hammer (2025) dan Operation Epic Fury (2026), telah memberikan pelajaran penting bagi Pentagon di mana penggunaan pengebom siluman sangat ampuh.

Dari operari ini dapat ditarik benang merah bahwa AS membutuhkan jumlah armada pengebom jenis ini, yang dari sisi kapabilitas harus lebih modern lagi.

Menurut laporan Air & Space Forces Magazine, keberhasilan serangan presisi terhadap 13.000 target di Iran menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengirimkan muatan besar dari jarak jauh adalah aset yang krusial.

Namun, kampanye tersebut juga menyingkap keterbatasan jumlah armada pembom yang dimiliki AS saat ini.

Saat ini, Angkatan Udara AS (USAF) hanya memiliki 19 unit pengebom siluman B-2 Spirit —pesawat tercanggih di kelasnya yang sudah dioperasikan selama 26 tahun.

Sisa armada lainnya terdiri dari 76 unit B-52 Stratofortress yang sudah uzur (dibangun sebelum krisis rudal Kuba 1962) dan 46 unit B-1B Lancer dari era kepemimpinan Ronald Reagan.

Meskipun efektif untuk serangan mendadak (raid), jumlah ini dianggap terlalu kecil untuk menjalankan kampanye militer yang berkelanjutan dalam skala besar.

Selama Operasi Epic Fury, pengebom B-1 dan B-52 terpaksa meluncurkan rudal jarak jauh dari luar wilayah udara musuh untuk menghindari pertahanan udara Iran, setidaknya sampai pertahanan tersebut berhasil dilumpuhkan oleh serangan awal.

Para ahli menekankan bahwa menggunakan pesawat pengebom siluman terbaru yang lebih canggih seperti B-21 Raider jauh lebih ekonomis dibandingkan menembakkan rudal jelajah jarak jauh yang berharga jutaan dolar.

Pesawat siluman dapat masuk ke wilayah udara musuh dan menjatuhkan amunisi yang lebih murah dan lebih mudah diproduksi secara massal.

“Ini adalah hitungan matematika sederhana,” tulis Douglas A. Birkey dan Kolonel (Purn.) Mark Gunzinger dalam komentarnya.

“Lebih berkelanjutan mengirim pengebom siluman dengan senjata murah daripada terus-menerus mengandalkan stok rudal jelajah yang terbatas dan mahal,” tandas mereka.

Target 200 Pesawat

Jika kampanye di Iran membutuhkan 13.000 target, para ahli memperkirakan konflik potensial dengan China akan membutuhkan serangan terhadap target sepuluh kali lipat lebih banyak.

Berdasarkan analisis dari Mitchell Institute for Aerospace Studies, AS disarankan untuk memiliki setidaknya 200 unit B-21 Raider, dua kali lipat dari rencana awal USAF yang minimal 100 unit.

Kabar baiknya, program pengembangan B-21 dilaporkan berjalan sesuai jadwal dan anggaran.

Pesawat ini baru-baru ini sukses menjalani uji coba pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling), sebuah tonggak penting sebelum nantinya mengisi skuadron operasional pertama.

Untuk menutupi celah hingga B-21 siap dalam jumlah besar, USAF berencana memperpanjang masa pakai B-1 dan B-2 hingga dekade 2030-an.

Namun, pesan utamanya tetap jelas, bahwa untuk menjaga daya gentar secara global, AS harus mempercepat produksi B-21 untuk membangun armada pembom masa depan yang lebih tangguh. (RW)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *