AIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi telah menyetujui kemungkinan penjualan militer asing (FMS) berupa ratusan rudal pencegat Patriot dan peralatan terkait kepada Qatar.
Kesepakatan besar ini diperkirakan bernilai total sekitar 4,01 miliar USD (sekitar Rp64,5 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.100).
Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) mengumumkan, Qatar telah mengajukan permohonan untuk membeli total 500 unit rudal pencegat.
Proposal akuisisi tersebut mencakup 200 rudal PAC-2 (Patriot Advanced Capability-2), yakni varian Guidance Enhanced Missile-Tactical (GEM-T), dan 300 rudal PAC-3 (Patriot Advanced Capability-3) varian Missile Segment Enhancement (MSE).
Langkah ini diambil melalui prosedur darurat yang ditetapkan oleh Menteri Luar Negeri AS. Dengan menetapkan status darurat, pemerintah AS dapat melewati proses peninjauan standar oleh Kongres guna mempercepat pengiriman bantuan militer.
Keputusan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan regional di Timur Tengah dan kebutuhan mendesak Qatar untuk memulihkan kapasitas pertahanan udaranya.
Penjualan ini dimaksudkan untuk membantu Qatar, salah satu sekutu utama AS di luar NATO, dalam memperbarui stok rudal pertahanan udaranya yang mulai menipis.
Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga integritas teritorial Qatar serta menangani ancaman rudal maupun pesawat musuh di masa depan.
“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu meningkatkan keamanan negara mitra yang terus menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Timur Tengah,” tulis pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.
Dua raksasa industri pertahanan AS akan menjadi kontraktor utama dalam proyek ini, yakni Lockheed Martin (berbasis di Dallas, Texas) yang memproduksi varian PAC-3 MSE, dan RTX Corporation (sebelumnya Raytheon, berbasis di Arlington, Virginia) yang memproduksi varian PAC-2 GEM-T.
Pemerintah AS menegaskan, pengiriman senjata ini tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan militer dasar di kawasan tersebut, melainkan fokus pada peningkatan interoperabilitas antara angkatan bersenjata Qatar dan Amerika Serikat dalam operasi koalisi. (RW)

