AIRSPACE REVIEW – Swedia meluncurkan satelit pengintaian dan pengawasan militer pertamanya ke orbit. Hal ini menandai masuknya Stockholm ke ranah antariksa dan menghadirkan kemampuan nasional untuk mendeteksi dan menganalisis ancaman dalam skala global.
Satelit dibawa menggunakan roket Falcon 9 milik perusahaan SpaceX, yang diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg (Vandenberg SFB) di Santa Barbara, California pada 3 Mei 2026.
Selanjutnya, satelit tersebut beroperasi dari orbit rendah Bumi, menangkap citra beresolusi tinggi yang akan digunakan militer Swedia untuk memantau wilayah operasionalnya, termasuk wilayah yang sulit diamati.
Di antara wilayah tersebut adalah Arktik, sebuah wilayah yang semakin penting secara strategis di mana sekutu NATO kesulitan untuk mempertahankan cakupan pengawasan berkelanjutan.
Program satelit Swedia ini telah beralih dari konsep ke realitas operasional jauh lebih cepat dari target sebelumnya, yang awalnya ditetapkan pada tahun 2030.
Percepatan ini dimungkinkan berkat kolaborasi erat dengan Administrasi Material Pertahanan Swedia, yang menangani pengadaan, serta partisipasi dari Badan Penelitian Pertahanan Swedia.
Angkatan Bersenjata Swedia berencana untuk mengerahkan sekitar sepuluh satelit dalam beberapa tahun mendatang.
Divisi antariksa Angkatan Udara Swedia juga telah mulai membangun Pusat Operasi Antariksa, di mana mereka akan menghasilkan gambaran kesadaran situasional antariksa dan mengelola konstelasi satelit Swedia.
Sementara, satelit mata-mata Swedia tersebut diproduksi oleh Planet Labs, perusahaan pengamatan Bumi yang berbasis di California yang konstelasi satelitnya telah banyak digunakan untuk keperluan pencitraan komersial dan pemerintah.
Sedangkan Falcon 9 adalah roket antariksa yang diproduksi, dimiliki, dan dioperasikan oleh perusahaan dirgantara swasta SpaceX, bukan badan antariksa pemerintah. (RBS)

