AIRSPACE REVIEW – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan mengejutkan dengan mengancam akan mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir, USS Abraham Lincoln (CVN-72), ke lepas pantai Kuba.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pidatonya di Palm Beach Forum Club, Florida, pada Minggu (3/5/2026).
Dalam pidatonya, Trump menyatakan niatnya untuk memerintahkan komandan militer menempatkan kapal raksasa tersebut hanya dalam jarak sekitar 100 yard (sekitar 91 m) dari garis pantai Kuba.
“Kami akan membawanya masuk, menghentikannya kira-kira 100 yard dari pantai, dan mereka akan berkata, ‘Terima kasih banyak, kami menyerah’,” ujar Trump.
USS Abraham Lincoln saat ini diketahui sedang beroperasi di Teluk Persia sebagai bagian dari misi gabungan AS-Israel melawan Iran.
Namun, Trump mencatat bahwa kapal tersebut, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dapat melewati Kuba dalam rute perjalanannya saat kembali nanti.
Hingga saat ini, baik Donald Trump maupun Gedung Putih belum memberikan klarifikasi resmi apakah pernyataan tersebut merupakan rencana operasi militer yang nyata atau sekadar gurauan politik.
Namun, langkah ini sejalan dengan kebijakan keras Trump terhadap Kuba sejak awal masa kepemimpinannya.
Pada Januari 2026, Trump menetapkan status darurat terkait Kuba dan memperkenalkan sanksi sekunder berupa tarif bagi negara-negara yang memasok minyak ke negara tersebut.
Kemudian pada 1 Mei 2026, Trump menandatangani perintah untuk semakin memperketat pembatasan terhadap Kuba.
Saat ini, Pentagon dilaporkan sedang menyusun rencana kemungkinan intervensi militer di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana.
Sebelumnya, pada 13 April di Gedung Putih, Trump sempat menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan tindakan lebih lanjut terhadap Kuba setelah konflik dengan Iran selesai.
Ia menegaskan memiliki wewenang untuk mengambil langkah apa pun yang diperlukan guna menegakkan kendali atas Kuba.
Kuba terus berada di bawah tekanan ekonomi dan politik yang berat dari pemerintahan Trump, yang secara konsisten mengancam akan melakukan invasi untuk mengubah peta politik di kawasan Karibia tersebut. (PN)

