AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut AS (US Navy) berhasil mencapai tonggak sejarah penting dalam modernisasi kekuatan udaranya.
Unit produksi representatif pertama dari drone tanker MQ-25A Stingray sukses menyelesaikan penerbangan perdananya di Bandara MidAmerica St. Louis, Mascoutah, Illinois, pada 25 April 2026.
Keberhasilan ini menandai dimulainya fase uji terbang penting dalam program Engineering and Manufacturing Development (EMD), yang bertujuan untuk memperluas daya pukul kapal induk AS, terutama dalam menghadapi persaingan yang kian ketat dengan Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.
Penerbangan perdana dilakukan sekitar enam tahun setelah uji coba prototipe awal (T1) pada tahun 2019.
Dalam misi ini, MQ-25A didampingi oleh pesawat jet TA-4J Skyhawk milik Boeing dan UC-12M Huron milik US Navy sebagai pesawat pengawal (chase aircraft) untuk memantau telemetri dan keamanan ruang udara.
Drone MQ-25A memiliki panjang 15,5 m, rentang saya 22,9 m (dapat dilipat menjadi 9,54 m untuk penyimpanan di dek kapal induk, dan ditenagai satu mesin turbofan Rolls-Royce AE 3007N (10.000 lbf).
MQ-25A dirancang untuk fungsi utama sebagai drone pengisi bahan bakar di udara (aerial refueling).
Dengan kapasitas angkut bahan bakar mencapai 14.000 hingga 16,000 pon untuk jarak 500 mil laut, drone ini akan menggantikan jet tempur F/A-18 Super Hornet dari tugas tanker “buddy store” yang selama ini memakan sekitar 20-30% jam terbang mereka.
Dengan dukungan MQ-25A, jet tempur F-35C dan F/A-18 US Navy dapat terbang lebih jauh untuk menjangkau target yang berada jauh di dalam zona pertahanan lawan.
Dengan adanya drone tanker ini, akan mengembalikan peran jet tempur sepenuhnya untuk misi serang dan pertahanan udara.
Selain sebagai tanker, unit EMD terbaru ini kini dilengkapi dengan turret elektro-optik dan inframerah di bawah hidung pesawat.
Hal ini memungkinkan Stingray menjalankan misi sekunder berupa intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), serupa dengan kemampuan drone MQ-9 Reaper.
Sistem kontrolnya juga telah terintegrasi dengan Unmanned Carrier Aviation Mission Control System (UMCS), yang memungkinkan pilot jet tempur di udara untuk mengendalikan drone ini secara langsung selama proses pengisian bahan bakar.
Angkatan Laut AS menargetkan Kemampuan Operasional Awal (IOC) pada tahun fiskal 2027. Meskipun jadwal ini mengalami penundaan sekitar dua tahun dari rencana awal, program ini tetap menjadi prioritas utama dengan anggaran pengadaan dan riset mencapai 1,04 miliar USD (sekitar Rp16,9 triliun) pada tahun 2026.
Kehadiran MQ-25A Stingray diharapkan menjadi pengubah permainan (game changer) di teater operasi laut, memberikan fleksibilitas taktis yang belum pernah ada sebelumnya bagi armada kapal induk Amerika Serikat. (RW)

