AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan asal Swedia, Saab, mengumumkan rencana ambisius untuk meningkatkan kapasitas produksi jet tempur Gripen secara signifikan.
Langkah ini diambil menyusul laporan keuangan Kuartal I (Q1) 2026 yang menunjukkan pertumbuhan penjualan organik sebesar 24 persen serta meningkatnya permintaan global terhadap pesawat tempur tersebut.
Dalam paparan kinerjanya pada 23 April 2026, CEO Saab Micael Johansson menyatakan perusahaan kini menargetkan produksi antara 20 hingga 30 unit pesawat per tahun dalam jangka pendek (sekitar 12 bulan ke depan).
Angka ini meningkat pesat dibandingkan tingkat produksi saat ini yang berada di kisaran 15 unit per tahun.
Lebih lanjut, Saab menetapkan target jangka panjang untuk mencapai kapasitas produksi hingga 36 unit Gripen per tahun.
Peningkatan ini didorong oleh tumpukan pesanan (order backlog) yang kini mencapai nilai fantastis sebesar 274 miliar SEK (sekitar 25 miliar USD).
Untuk mencapai target tersebut, Saab tidak hanya mengandalkan fasilitas utamanya di Linköping, Swedia. Strategi ekspansi kapasitas ini melibatkan beberapa titik global.
Di Brasil, kolaborasi dengan Embraer telah membuahkan hasil dengan peresmian jet tempur Gripen pertama yang dirakit sepenuhnya di fasilitas Gavião Peixoto, Brasil, pada Maret 2026.
Di Kanada, Saab sedang dalam pembicaraan intensif untuk membangun jalur perakitan ketiga jika berhasil memenangkan kontrak pengadaan pesawat tempur di sana.
Sementara di Ukraina, Saab juga tengah menjajaki potensi pengiriman Gripen ke Ukraina antara tahun 2028-2029, seiring dengan progres positif pembicaraan antara pemerintah Swedia dan Kyiv.
Peningkatan produksi ini didukung oleh fondasi keuangan yang kuat. Pada Q1 2026, Saab mencatat penjualan yang mencapai 19,16 miliar SEK (sekitar Rp35,81 triliun), naik dari 15,79 miliar SEK (sekitar Rp29,51 triliun) pada periode yang sama tahun lalu.
Saab menyebut laba operasional (EBIT) meningkat 32% menjadi 1,92 miliar SEK, melampaui ekspektasi para analis pasar.
Sementara itu, seluruh lini bisnis Saab, termasuk sektor Surveillance dan Aeronautics, mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Micael Johansson menegaskan bahwa prioritas perusahaan saat ini adalah memperkuat rantai pasok dan kapasitas industri agar mampu memenuhi pesanan yang terus berdatangan dari berbagai negara.
Produksi Gripen diproyeksikan mulai beralih ke Gripen E, seiring minat dari negara-negara yang sebelumnya menggunakan pesawat buatan Amerika Serikat atau Prancis. (RW)

