Laporan intelijen: Jet tempur F-5 Iran bobol sistem pertahanan udara AS, kerusakan ditaksir Rp80 triliun

Iranian F-5F Tiger IIIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh NBC News mengungkapkan fakta mengejutkan terkait efektivitas serangan Iran terhadap basis-basis militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Informasi yang paling menyita perhatian adalah dugaan penggunaan jet tempur veteran Northrop F-5 Angkatan Udara Iran dalam serangan langsung ke Camp Buehring di Kuwait.

Berdasarkan data dari pejabat AS, penasehat Kongres, dan analisis dari American Enterprise Institute, serangan Iran ternyata jauh lebih luas dan berdampak dibandingkan pernyataan resmi yang dikeluarkan sebelumnya.

Serangan tersebut dilaporkan menghantam lebih dari 100 target di tujuh negara, yang secara langsung merusak infrastruktur militer utama Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Jika terkonfirmasi, penggunaan F-5 untuk mengebom Camp Buehring menandai peristiwa bersejarah sekaligus mengkhawatirkan.

Ini akan menjadi pertama kalinya dalam beberapa dekade sebuah pesawat tempur sayap tetap milik musuh berhasil menembus sistem pertahanan udara modern AS yang sangat canggih.

F-5 adalah pesawat desain tahun 1960-an yang masih dioperasikan Iran dalam versi modernisasi, seperti Saeqeh.

Meski dianggap tertinggal dibandingkan jet tempur generasi terbaru, para pakar menyebutkan bahwa dimensi pesawat yang kecil serta tanda radar yang relatif rendah dapat menyulitkan deteksi.

Terlebih lagi, serangan ini diduga dilakukan saat sistem pertahanan AS sedang mengalami “saturasi” atau kewalahan akibat serangan massal drone dan rudal balistik yang dilakukan secara bersamaan.

Laporan tersebut merinci bahwa selain Camp Buehring, serangan Iran juga menghantam fasilitas strategis di Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Irak, dan Arab Saudi.

Target yang terkena dampak antara lain Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, di mana salah satu landasan pacunya dilaporkan sempat tidak berfungsi.

Selain itu, hanggar, pusat kendali, gudang logistik, radar, dan sistem komunikasi mengalami kerusakan serius dan beberapa pesawat yang berada di darat dilaporkan rusak akibat serangan tersebut.

Estimasi awal menunjukkan bahwa biaya rekonstruksi untuk memperbaiki kerusakan akibat kampanye serangan ini bisa melebihi 5 miliar USD (sekitar Rp80 triliun).

Selain F-5, laporan tambahan mengindikasikan keterlibatan pesawat lain seperti pengebom Sukhoi Su-24 milik Iran.

Meskipun beberapa pesawat berhasil dicegat sebelum mencapai target, intensitas serangan udara yang sangat tinggi menciptakan situasi yang kacau di ruang udara kawasan tersebut, bahkan sempat memicu insiden “friendly fire” atau salah tembak antar pasukan kawan karena ketegangan yang luar biasa.

Hingga saat ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) hanya mengakui sebagian dari peristiwa tersebut dengan menyoroti ancaman kombinasi rudal dan drone.

Namun, fakta-fakta baru ini menunjukkan bahwa militer Iran memiliki kemampuan koordinasi yang jauh lebih efektif dari yang diperkirakan, serta kemampuan untuk mengeksploitasi celah dalam perisai pertahanan udara paling mutakhir di dunia. (PN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *