Nasib kapal induk masa depan AS terancam? US Navy tinjau ulang proyek kelas Gerald R. Ford

USS Gerald R FordUS Navy

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) saat ini tengah berada di persimpangan jalan terkait strategi kekuatan laut mereka.

Tinjauan mendalam terhadap program kapal induk kelas Gerald R. Ford kini memicu pertanyaan besar apakah AS akan terus membangun raksasa laut ini atau beralih ke desain yang benar-benar baru?

Sekretaris Angkatan Laut, John Phelan, mengungkapkan pihaknya sedang menyelesaikan evaluasi komprehensif terhadap rencana akuisisi kapal induk dalam satu bulan ke depan.

Fokus utamanya adalah membandingkan efektivitas operasional dan biaya antara kapal induk terbaru kelas Ford dengan pendahulunya yang sudah teruji, yaitu kelas Nimitz.

Salah satu pertanyaan inti dalam tinjauan ini adalah apakah US Navy mendapatkan nilai yang sebanding dengan investasi jumbo yang dikeluarkan (bang for our buck)?

Kapal induk kelas Ford (USS Gerald R. Ford/CVN-78) dirancang dengan teknologi mutakhir seperti sistem peluncur pesawat elektromagnetik (EMALS) dan derek senjata canggih.

Namun, proyek ini terus didera masalah teknis, penundaan jadwal, dan pembengkakan biaya.

Sebagai gambaran, kapal induk ketiga dari kelas ini, yaitu USS Doris Miller (CVN-81), diperkirakan akan menelan biaya sekitar 15 miliar USD (sekitar Rp243 triliun).

Tinjauan ini menaruh masa depan dua kapal induk yang sudah direncanakan, yakni USS William J. Clinton (CVN-82) dan USS George W. Bush (CVN-83), dalam ketidakpastian.

Meskipun Angkatan Laut AS telah mengajukan dana awal untuk CVN-82 dalam anggaran Tahun Fiskal 2027, kontrak pembangunan resminya belum ditandatangani.

Jika hasil tinjauan menunjukkan bahwa kelas Ford tidak memberikan keunggulan operasional yang signifikan dibanding biaya yang dikeluarkan, ada potensi pesanan kapal-kapal berikutnya akan dibatalkan atau desainnya diubah total.

Di saat masa depannya dipertanyakan, USS Gerald R. Ford —satu-satunya kapal di kelasnya yang sudah beroperasi— justru sedang menjalani misi maraton.

Kapal ini telah berada di laut selama lebih dari 10 bulan, pengerahan terlama bagi kapal induk AS sejak Perang Vietnam.

Kondisi ini menambah beban bagi armada laut AS. Penundaan penyerahan kapal induk kedua, USS John F. Kennedy (CVN-79), hingga tahun 2027 memaksa kapal-kapal yang ada untuk bekerja lebih keras, yang pada akhirnya berdampak pada kesiapan pemeliharaan dan kelelahan awak kapal.

Wacana untuk beralih ke kapal induk yang lebih kecil dan murah (mungkin bertenaga non-nuklir) sebenarnya bukan hal baru.

Namun, tinjauan kali ini terasa lebih mendesak seiring meningkatnya ancaman dari rudal anti-kapal jarak jauh milik lawan seperti China dan Rusia, yang membuat kapal induk raksasa menjadi target yang lebih rentan, seperti dilaporkan TWZ.

Keputusan akhir dari tinjauan ini diprediksi akan menjadi salah satu keputusan strategis paling penting bagi militer AS dalam dekade ini, karena akan menentukan bagaimana kekuatan udara laut Amerika akan diproyeksikan hingga pertengahan abad ke-21. (RW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *