AIRSPACE REVIEW – Perusahaan kedirgantaraan raksasa, Airbus, dilaporkan tengah mengembangkan proyek ambisius untuk memperluas peran pesawat angkut militer A400M Atlas.
Tidak lagi sekadar pengangkut logistik, pesawat ini direncanakan sebagai “Pesawat Induk” (Mothership) mampu membawa dan meluncurkan hingga 12 rudal jelajah jarak jauh, termasuk jenis Taurus.
Media Jerman, Hartpunkt, memberitakan proyek ini bertujuan mengubah A400M menjadi platform udara serbaguna. Selain rudal jelajah, pesawat juga diproyeksikan mampu mengerahkan hingga 50 unit drone dalam satu waktu.
Konsep ini bukanlah hal baru di dunia militer. Langkah Airbus dinilai sangat mirip dengan program Rapid Dragon milik Amerika Serikat.
Dalam program tersebut, militer AS menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules untuk meluncurkan rudal jelajah AGM-158 JASSM melalui sistem palet yang dijatuhkan dari pintu kargo belakang.
Ide utamanya adalah memanfaatkan kapasitas ruang kargo yang luas pada pesawat angkut untuk menciptakan “pembom darurat” tanpa harus membangun pesawat pembom strategis yang sangat mahal.
Jerman saat ini menjadi operator terbesar A400M dengan total 53 unit yang telah diterima oleh Bundeswehr.
Dengan armada yang sudah tersedia, mengubah sebagian pesawat ini menjadi pembawa rudal dianggap sebagai langkah efisien untuk meningkatkan daya gempur udara Jerman.
Bagi Airbus, inovasi ini juga menjadi nilai jual tambahan untuk menarik pembeli baru di pasar internasional, dengan menawarkan pesawat yang bisa menjalankan misi logistik sekaligus misi tempur ofensif.
Laporan tersebut juga menyoroti potensi penggunaan teknologi ini dalam konteks perang di Ukraina.
Saat ini, Ukraina sangat bergantung pada pesawat tempur tua era Soviet yang dimodifikasi untuk meluncurkan rudal Barat seperti Storm Shadow atau SCALP.
Jika konsep A400M ini terwujud, Ukraina secara teoretis bisa memiliki platform peluncuran yang jauh lebih kuat untuk rudal sekelas Taurus.
Namun, implementasinya tetap membutuhkan dua hal krusial: jumlah armada pesawat angkut yang memadai dan mekanisme peluncuran khusus yang dipasang di dalam ruang kargo.
Meski masih dalam tahap pengembangan dan konseptual, transformasi A400M ini menandakan pergeseran strategi militer modern, di mana pesawat logistik kini mulai dipersenjatai untuk menghadapi tantangan konflik intensitas tinggi di masa depan. (RW)

