AIRSPACE REVIEW – Di gelaran DSA 2026, yang sedang berlangsung Kuala Lumpur Malaysia, STM memamerkan model skala Kapal Misi Pesisir Batch 2 (Littoral Mission Ship Batch 2/LMSB2) pesanan Malaysia, sebagai bagian dari kontrak tiga kapal yang dilaksanakan antar pemerintah Malaysia dan Turkiye.
Pembangunan kapal pertama telah dimulai pada 4 Desember 2024 di galangan kapal Istanbul, setelah pemilihan desain yang berasal dari korvet kelas ADA yang diputuskan pada Juni 2024.
Kontrak tersebut memberikan tanggung jawab penuh kepada STM, termasuk wewenang desain, konstruksi lambung, integrasi sistem, pengujian, pengiriman, dan dukungan logistik terpadu. Pengiriman kapal pertama diproyeksikan sekitar tahun 2027.
Kehadiran LMSB2 secara langsung akan menggantikan kapal kelas Keris dari Littoral Mission Ship Batch 1 (LMSB1), yang memiliki bobot kurang dari 700 ton dan persenjataan terbatas.
Kapal LMSB2 memiliki panjang antara 99,5 m, lebar 14,4 m dan draft 3,9 m, dan bobot perpindahan 2.400 hingga 2.500 ton tergantung pada kondisi muatannya.
Jumlah awak LMSB2 hingga 111 orang, atau lebih banyak dibandingkan dengan kelas ADA asli yang menampung 93 personel, untuk tambahan spesialis misi atau detasemen penerbangan.
Untuk sistem propulsinya, kapal kelas ADA asli mengadopsi konfigurasi CODAD, menggunakan gabungan mesin diesel dan turbin gas.
Sedangkan LMSB2 menghilangkan turbin gas, beralih menggunakan empat mesin diesel untuk efisiensi bahan bakar dan mengurangi kompleksitas perawatannya.
Akibatnya, kecepatan maksimum LMSB2 hanya 26 knot, dibandingkan kelas ADA yang mencapai 30 knot.
Jangkauan operasional kapal mencapai 5.000 mil laut pada kecepatan jelajah 14 knot atau 14 hari di laut, yang dapat diperpanjang hingga sekitar 21 hari dengan dukungan logistik.
Sistem tempur pada kapal mengintegrasikan CMS terpusat dikembangkan oleh HAVELSAN, berasal dari arsitektur Genesis, yang memproses masukan sensor dan mengoordinasikan keterlibatan senjata melalui antarmuka terpadu.
Pertukaran data dimungkinkan oleh sistem Link-Y, yang dirancang untuk interoperabilitas dengan tautan data taktis setara NATO, memungkinkan integrasi kapal ke dalam operasi gabungan dan koalisi.
Rangkaian sensor pada kapal mencakup radar pengawasan tiga dimensi dan radar pengendali tembakan yang diproduksi oleh ASELSAN, menyediakan deteksi dan pelacakan target
Persenjataan LMSB2 mencakup meriam laut utama 76 mm, yang memberikan kemampuan menyerang target permukaan dan ancaman udara terbatas.
Lalu stasiun senjata kendali jarak jauh dengan kanon otomatis 30 mm yang dilengkapi dengan sistem penargetan elektro optik memberikan pertahanan jarak dekat terhadap ancaman permukaan kecil dan serangan drone.
Pertahanan udara didasarkan pada sistem peluncuran vertikal (VLS) dengan 16 sel, yang mampu memuat empat rudal K-SAAM Haegung yang dikembangkan oleh LIG Nex1.
Sementara, kemampuan antikapal permukaan disediakan oleh delapan rudal Atmaca yang diproduksi oleh ROKETSAN.
Namun pada LMSB2 tidak ada sistem torpedo yang terpasang, sehingga membatasi kemampuan peperangan antikapal selam secara langsung. (RBS)

