AIRSPACE REVIEW – Kementerian Pertahanan Jerman secara resmi telah merimaan unit ke-53 sekaligus terakhir pesawat Airbus A400M Atlas yang dipesan untuk Angkatan Udara Jerman, Luftwaffe.
Pengiriman pesawat oleh Airbus Defence and Space ini menandai tuntasnya kontrak pengadaan strategis sekaligus mengukuhkan Jerman sebagai operator A400M terbanyak di dunia.
Meskipun program pengembangan pesawat ini sempat menghadapi berbagai tantangan teknis dan penyesuaian jumlah pesanan selama bertahun-tahun, keberhasilan merampungkan seluruh unit ini menjadi tonggak sejarah baru dalam memperkuat kapabilitas proyeksi kekuatan udara Jerman di kancah internasional.
Kehadiran armada lengkap ini sekaligus mengakhiri masa pengabdian pesawat angkut veteran Transall C-160 yang telah dipensiunkan sejak tahun 2021.
Dibandingkan pendahulunya, A400M menawarkan lompatan kapasitas yang sangat signifikan karena mampu mengangkut hingga 37 ton kargo atau lebih dari 100 personel militer bersenjata lengkap.
Selain kemampuannya beroperasi di landasan pacu pendek yang tidak beraspal seperti tanah, pasir, atau rumput, pesawat ini juga memiliki jangkauan interkontinental yang menggabungkan fungsi transportasi taktis dan strategis ke dalam satu platform udara yang sangat fleksibel.
A400M Atlas, dengan empat turboprop Europrop TP400-D6 yang terbang dengan kecepatan hingga kecepatan Mach 0,72 atau sekitar 780 km/jam.
Pesawat yang memiliki bentang sayap 42,4 m dan volume ruang kargo seluas 340 meter kubik yang mampu menampung beban berat seperti helikopter NH90 atau kendaraan tempur Puma.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan multiperan, di mana satu pesawat dapat dikonfigurasi ulang secara cepat menjadi unit pengisi bahan bakar di udara (tanker), platform evakuasi medis (medevac) dengan fasilitas perawatan intensif, hingga operasi penerjunan pasukan lintas udara.
Hingga saat ini, Jerman memimpin daftar operator global, diikuti oleh sejumlah negara lain yang juga mengandalkan pesawat ini sebagai tulang punggung logistik militer mereka.
Negara-negara tersebut meliputi Perancis, Spanyol, Inggris, Turkiye, Belgia, dan Luksemburg sebagai bagian dari konsorsium Eropa asli.
Di luar Eropa, Malaysia dan Kazakhstan telah mengoperasikan pesawat ini, ditambah Indonesia yang menyusul bergabung dalam jajaran operator global setelah menerima dua unit yang dipesannya.
Dengan tuntasnya pengiriman A400M oleh Airbus Defence and Space terhadap Jerman, fokus operasional kini beralih ke optimalisasi seluruh armada di Pangkalan Udara Wunstorf untuk mendukung misi kemanusiaan dan pertahanan gabungan di seluruh dunia. (RF)

