AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut Kerajaan Belgia (Marine Royale) siap mengerahkan kapal perang pemburu ranjau miliknya dekat ke Mediterania karena ketegangan di sekitar Selat Hormuz masih berlangsung, yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Pengerahan kapal Primula dengan nomor lambung M924 ini telah disetujui oleh Kabinet Menteri inti, namun jadwal pasti penempatan dan detail area operasinya belum diungkapkan.
Kehadiran Primula diharapkan dapat membantu mengamankan jalur penting energi global tersebut dari ancaman ranjau laut yang disebarkan oleh Iran. Kapal akan beroperasi dengan koordinasi dengan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Primula merupakan pemburu ranjau kelas Tripartite yang dibangun oleh galangan kapal Mercantile-Belyard di Rupelmonde dan diluncurkan pada Desember 1990.
Untuk meningkatkan kemampuannya, kapal tersebut menjalani pekerjaan modernisasi besar-besaran pada tahun 2004-2005, seperti penggantian sistem pencarian ranjau PAP dan pemasangan kanon 20 mm.
Pemerintah Belgia sendiri, telah berniat menyumbangkan kapal Primula kepada Angkatan Laut Bulgaria, bersama dengan tiga kapal pemburu ranjau kelas Tripartite lainnya yakni Bellis, Crocus dan Lobelia.
Untuk spesifikasinya, kapal memiliki bobot sekitar 605 ton pada muatan penuh, panjang 51,5 m, lebar 8,96 m, draf 3,6 m, serta menampung 36 orang awak.
Sistem penggeraknya didasarkan pada mesin diesel Werkspoor RUB 215 V12 dengan daya 1.370 kW, didukung oleh kemudi aktif ACEC dan pendorong haluan HOLEC.
Kapal ini tidak dirancang untuk kecepatan tinggi, tetapi untuk manuver terkontrol pada kecepatan rendah, menjaga posisi yang tepat, dan mengurangi jejak akustik dan magnetik selama operasi pencarian ranjau.
Kecepatan maksimumnya hanya 15 knot, dengan jangkauan operasional sekitar 3.000 mil laut pada kecepatan jelajah 12 knot.
Primula dilengkapi dengan Systems TSM 2022 Mk III yang terpasang di lambung kapal dan sonar kedalaman variabel SAAB Bofors Double Eagle Mk III.
Dengan perangkat canggih ini memungkinkan deteksi dan klasifikasi yang lebih baik terhadap dasar laut dan objek yang mengapung tergantung pada kondisi lingkungan.
Kapal ini juga membawa hingga sepuluh sistem Atlas Elektronik Seafox, wahana yang dioperasikan dari jarak jauh dipandu serat optik yang digunakan untuk identifikasi visual dan netralisasi.
Seafox beroperasi sebagai sistem sekali pakai, dilengkapi dengan kamera dan muatan peledak, memungkinkan penghancuran ranjau yang ditargetkan tanpa mengekspos kapal induk pada risiko langsung.
Kombinasi deteksi, inspeksi, dan netralisasi ini sangat cocok untuk jalur air sempit di mana sejumlah ranjau dapat mengganggu lalu lintas maritim.
Namun demikian, kapal pemburu ranjau seperti Primula tidak dapat membersihkan selat dalam waktu singkat. Operasinya berjalan lambat, sektor demi sektor, lebih memprioritaskan kepastian daripada kecepatan. (RBS)

