AIRSPACE REVIEW – Pasukan Amerika Serikat yang beroperasi di wilayah Laut Arab utara mengambil tindakan tegas untuk menegakkan aturan blokade laut terhadap sebuah kapal kargo berbendera Iran, M/V Touska, pada tanggal 19 April.
Kejadian bermula saat kapal perusak USS Spruance (DDG-111) mencegat kapal tersebut yang tengah melaju dengan kecepatan 17 knot menuju pelabuhan Bandar Abbas, Iran.
Berdasarkan laporan, kapal kargo itu terdeteksi mencoba menerobos zona blokade yang sedang diberlakukan oleh militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Meskipun pihak militer Amerika telah memberikan peringatan berulang kali selama enam jam bahwa kapal tersebut melanggar aturan, kru M/V Touska tetap tidak mematuhi instruksi yang diberikan.
Karena peringatan terus diabaikan dan situasi tidak kunjung kooperatif, USS Spruance akhirnya mengambil langkah ekstrem dengan memerintahkan kru M/V Touska untuk segera mengosongkan ruang mesin kapal tersebut, mengacu pada keterangan yang diunggah Departemen Perang AS (DoW) di X.
Sesaat setelah dipastikan area tersebut aman dari personel, USS Spruance melepaskan beberapa tembakan meriam kaliber 5 inci (MK 45) tepat ke arah ruang mesin guna melumpuhkan pergerakan kapal.
Setelah mesin mati dan kapal berhenti total, pasukan Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 segera naik ke atas kapal (boarding) dan mengambil alih kendali.
Saat ini, M/V Touska berada dalam penahanan Amerika Serikat. Pihak AS menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan secara profesional, terukur, dan sesuai prosedur untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade.
Sejak blokade ini resmi diberlakukan, DoW mengatakan tercatat sudah ada 25 kapal komersial yang diperintahkan untuk berputar balik atau kembali ke pelabuhan oleh pasukan Amerika Serikat.
USS Spruance
USS Spruance (DDG 111) merupakan kapal perusak peluru kendali kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut AS (US Navy) yang dirancang sebagai kapal tempur multi-peran dengan teknologi paling mutakhir.
Nama kapal diambil dari Laksamana Raymond A. Spruance, seorang tokoh kunci yang memimpin pasukan AS meraih kemenangan besar dalam Pertempuran Midway di Perang Dunia II.
Membawa semangat sang laksamana, kapal ini mengusung moto “Launch the Attack” dan berbasis di San Diego, California, dengan tugas utama menjaga stabilitas keamanan di wilayah perairan internasional termasuk Laut Arab.
Dari sisi kecanggihan teknis, kapal ini merupakan benteng terapung yang dilengkapi dengan Sistem Pertahanan Aegis untuk melacak ratusan target udara secara bersamaan serta senjata laser ODIN untuk melumpuhkan sensor drone.
Persenjataan utamanya sangat beragam, mulai dari tabung peluncur vertikal untuk rudal Tomahawk hingga meriam MK 45 kaliber 5 inci yang digunakan dalam insiden pelumpuhan kapal M/V Touska.
Dengan dukungan empat mesin turbin gas yang menghasilkan 100.000 tenaga kuda, USS Spruance mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 30 knot, menjadikannya salah satu kapal perang tercepat dan paling mematikan di kelasnya.
Dalam menjalankan misi operasionalnya, USS Spruance tidak hanya mengandalkan kekuatan tembakan, tetapi juga fleksibilitas taktis melalui dek penerbangan yang mampu membawa dua helikopter MH-60R Seahawk.
Kehadiran kapal ini di Laut Arab bersama Unit Ekspedisi Marinir ke-31 menunjukkan kapasitas Amerika Serikat dalam melakukan operasi penegakan hukum laut yang kompleks, mulai dari pemberian peringatan jarak jauh hingga aksi penyerbuan langsung ke atas kapal.
Dengan kombinasi radar canggih, daya pukul yang besar, dan personel elit, USS Spruance berfungsi sebagai instrumen utama dalam memastikan setiap aturan blokade dipatuhi di wilayah konflik. (RW)

