AIRSPACE REVIEW – Produsen drone kenamaan asal Amerika Serikat, General Atomics, telah memperkenalkan drone Mojave dengan kemampuan baru sebagai pemburu drone.
Pergeseran ini mencerminkan permintaan AS akan platform intai serang yang juga mampu bertindak untuk melawan drone kamikaze seperti Shahed-136 yang digunakan Iran dalam perang melawan AS dan Israel baru-baru ini.
Mojave dikembangkan berdasarkan drone MQ-1C Gray Eagle, yang memiliki kemampuan tinggal landas dan mendarat jarak pendek (STOL).
Drone mendapatkan sistem roda pendaratan baru yang lebih kokoh, guna beroperasi dari landasan tak siap seperti di gurun atau lapangan rumput.
Mojave membutuhkan jarak lepas landas sekitar 122 m dalam konfigurasi ISR (intelijen, pengawasan, dan pengintaian) dan sekitar 305 m saat membawa muatan persenjataan yang lebih berat.
Daya tahan drone di udara sekitar 25 jam, sementara kontrol berbasis satelit memberikannya jangkauan jelajah hingga 2.500 mil laut atau setara 4.630 km.
Sebagai wahana pemburu drone, Mojave dibekali dengan Advanced Precision Kill Weapon System II (APKWS II), roket berpemandu laser kaliber 70 mm.
Amunisi ini menawarkan jangkauan beberapa kilometer tergantung pada kondisi peluncuran dan mengandalkan panduan laser semi aktif untuk penembakan presisi dengan biaya lebih rendah.
Drone dapat melakukan penembakan volume tinggi, dengan membawa empat tabung yang masing-masing berisi 19 roket, cocok untuk melawan gerombolan drone lawan.
Selain itu, Mojave juga dapat dibekali amunisi jelajah Switchblade 600 yang dapat bertahan di udara sekitar 40 menit dan jangkauan lebih dari 40 km, memungkinkan serangan presisi terhadap target bergerak dari jarak jauh.
Drone dibekali sensor canggih termasuk radar EagleEye, yang mendukung deteksi udara ke udara, pencitraan radar apertur sintetis (SAR), dan indikasi target bergerak di darat (GMTI).
Lalu sensor elektro optik dan inframerah (EO/IR) yang memungkinkan identifikasi dan penunjukan target di lingkungan perang yang kompleks.
Sebagai drone multiperan, Mojave tetap mendukung pengintaian bersenjata dan berkoordinasi dengan aset helikopter seperti AH-64 Apache dan UH-60 Black Hawk, guna memperluas kesadaran situasional, dan menyediakan opsi serangan jarak jauh. (RBS)

