AIRSPACE REVIEW – Iran telah meningkatkan produksi drone hingga 10 kali lipat dalam tujuh bulan terakhir, sebelum AS-Israel melakukan serangan mendadak pada 28 Februari lalu.
Peningkatan produksi drone ini, kata Wakil Panglima Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Alireza Sheikh, merupakan hasil dari evaluasi strategis pascaperang 12 hari dengan AS pada Juni 2025.
“Dalam tujuh bulan sejak konflik tersebut, produksi drone kami meningkat sepuluh kali lipat dibandingkan total produksi pada periode sebelumnya,” ujar Jenderal Sheikh dalam sebuah wawancara menjelang Hari Angkatan Darat Nasional Iran pada 18 April 2026.
Laporan tersebut menekankan bahwa strategi baru Iran berfokus pada kemampuan skala besar yang dirancang untuk melumpuhkan sistem pertahanan musuh.
Dengan jumlah drone yang sangat besar, Iran dapat “membanjiri” sistem pertahanan udara lawan, seperti Iron Dome atau Patriot hingga titik jenuh.
Iran juga menggunakan drone sebagai alat pengalih dan pengacau algoritma pertahanan musuh, sehingga rudal balistik dan jelajah Iran dapat menghantam target dengan akurasi yang lebih tinggi.
Dikatakan bahwa seluruh lini produksi dilakukan secara domestik, memastikan pasokan tetap terjaga meski berada di bawah tekanan sanksi internasional atau blokade militer.
Selain peningkatan produksi yang drastis, laporan intelijen dan militer menunjukkan bahwa armada drone Iran kini memiliki jangkauan operasional yang sangat luas, mencakup titik-titik strategis di luar wilayah Israel.
Drone Iran menyasar instalasi militer Amerika Serikat di Irak dan Suriah. Dalam eskalasi terbaru pada awal 2026, serangan drone juga terdeteksi menyasar pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain serta fasilitas militer di Kuwait dan Qatar.
Tercatat pula serangan drone Iran menyasar infrastruktur minyak dan energi di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Drone Iran juga menyerang kapal-kapal komersial yang memiliki keterkaitan dengan negara-negara Barat atau Israel. Sebagian drone Iran ini juga digunakan oleh kelompok proksi seperti Houthi di Yaman.(RNS)
