Laporan terbaru Mitchell Institute: USAF saat ini tidak cukup kuat untuk melawan China

J-20 Mighty Dragon ChinaVia X

AIRSPACE REVIEW – Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Mitchell Institute for Aerospace Studies pada April 2026 mengeluarkan peringatan keras bagi pertahanan Amerika Serikat.

Laporan bertajuk “Rebuilding American Airpower: Balancing the Air Force’s Combat Forces for Peer Conflict” tersebut menyimpulkan bahwa kemampuan dan kapasitas Angkatan Udara AS (USAF) saat ini tidak memadai untuk memenangkan konflik langsung melawan China.

Menurut hasil kajian itu, kondisi USAF saat ini merupakan hasil dari deinvestasi selama puluhan tahun dan penundaan modernisasi (rekapitalisasi).

Dampaknya, armada jet tempur AS tidak lagi memiliki kapasitas, jangkauan (range), dan daya tahan (survivability) yang cukup untuk menguasai ruang udara dalam konflik melawan kekuatan setara (peer aggressor).

“Angkatan Udara kita tidak memiliki kepadatan serangan yang diperlukan untuk mengalahkan agresi dari kekuatan besar,” ungkap laporan tersebut, seperti diberitakan oleh National Defense.

Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan eksperimen wargame yang dilakukan pada Juni 2025. Simulasi ini menguji dua skenario USAF dalam mempertahankan Taiwan pada tahun 2035.

Skenario pertama, yaitu “Modernisasi Parsial”. Skenario ini menandai USAF yang berukuran kecil dan hanya mengalami sedikit modernisasi.

Hasilnya, Angkatan Udara AS gagal mencegah Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China melakukan pendaratan permanen di Taiwan karena kekurangan jumlah serangan maritim dan sorti tempur.

Skenario kedua, “Modernisasi Penuh”, yang menandai USAF dengan pendanaan konsisten selama satu dekade.

Meski lebih sukses dalam melumpuhkan musuh, skenario ini pun tetap menunjukkan tantangan kapasitas yang berat untuk menghadapi perang yang berkepanjangan.

Mark Gunzinger, Direktur Konsep Masa Depan di Mitchell Institute, menekankan bahwa USAF harus tumbuh lebih besar untuk menghindari “jeda serangan”.

Jika serangan dilakukan secara terputus-putus, China akan memiliki kesempatan untuk melakukan regenerasi kekuatan.

Laporan tersebut memberikan 12 rekomendasi strategis kepada Pemerinah Amerika Serikat dan USAF. Di antaranya adalah mendesak Kongres untuk mendanai setidaknya 300 unit jet tempur Boeing F-47 dan 200 unit pembom Northrop Grumman B-21 Raider.

Kemudian, mempercepat program Collaborative Combat Aircraft (CCA), yaitu sistem berbasis AI yang terbang mendampingi pilot manusia sebagai pengganda kekuatan (force multiplier).

Gunzinger juga menekankan slogan “Amunisi, amunisi, amunisi”. Ditekankan bahwa AS membutuhkan simpanan senjata jarak jauh yang masif karena stok saat ini telah banyak terkuras oleh konflik di Ukraina dan operasi di Iran.

Para ahli memperingatkan bahwa membiarkan penurunan kekuatan udara ini berlanjut adalah pilihan yang sangat berisiko.

Tanpa kemampuan untuk mencapai keunggulan udara dan melakukan serangan strategis jarak jauh, kredibilitas Amerika Serikat sebagai kekuatan global terancam.

“Angkatan Udara yang tidak bisa menguasai langit mengancam keamanan nasional AS secara keseluruhan,” pungkas laporan tersebut.

Masalah ini kini berada di tangan Pentagon dan Kongres untuk memutuskan apakah mereka akan memberikan lonjakan pendanaan yang diperlukan untuk membalikkan keadaan sebelum tahun 2035. (RNS)

0 Replies to “Laporan terbaru Mitchell Institute: USAF saat ini tidak cukup kuat untuk melawan China”

  1. Tunawisma , zombie aja pemerintah as tdk bisa mengatasinya trs ngap urusin negara lain coba ? Kan itu otak terbalik . Jadi jelas kan pemerintah as aja tdk perhatikan rakyatnya trs negara lain mau minta as perhatikan 🤣🤣🤣🤣🤣 ngimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *