AIRSPACE REVIEW – Raksasa kedirgantaraan Boeing secara resmi telah memulai proses produksi helikopter angkut berat CH-47F Chinook Block II yang dipesan untuk Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe).
Pada awal April 2026, Boeing memamerkan unit pertama dalam lini produksi dengan nomor identitas M1701.
Helikopter ini merupakan bagian dari pesanan total sebanyak 60 unit yang akan menggantikan armada helikopter veteran CH-53G Sea Stallion.
Armada lama tersebut direncanakan akan dipensiunkan sepenuhnya pada akhir dekade ini.
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, pengiriman pertama heli Chinook ke Jerman diharapkan akan dimulai pada tahun 2027 dan akan berlanjut secara bertahap hingga dekade berikutnya.
Varian Block II yang diproduksi untuk Jerman memiliki sejumlah peningkatan signifikan dibandingkan versi sebelumnya.
Kemampuan pengisian bahan bakar di udara (AAR) merupakan fitur utama yang sangat krusial untuk memperluas jangkauan operasional dan fleksibilitas dalam misi jarak jauh.
Heli baru ini juga memiliki rangka yang lebih kokoh dan sistem transmisi baru yang memungkinkan peningkatan berat lepas landas maksimum (MTOW).
Heli dilengkapi dengan avionik digital modern dengan sistem navigasi canggih dan komunikasi aman yang sepenuhnya kompatibel dengan standar terbaru NATO.
Selain itu Block II dilengkapi dengan sensor peringatan rudal dan sistem penangkal inframerah terarah untuk meningkatkan kelangsungan hidup di zona tempur modern.
Program akuisisi CH-47F Chinook Block II untuk Luftwaffe dilaksanakan melalui skema Foreign Military Sales (FMS) Amerika Serikat.
Selain pengadaan heli, paket ini mencakup dukungan logistik, pelatihan, dan integrasi sistem.
Boeing bekerja sama dengan industri lokal Jerman seperti Lufthansa Technik, Airbus Helicopters, dan Rolls-Royce Deutschland dalam hal pemeliharaan dan dukungan operasional di masa depan.
Dengan beroperasinya Chinook Block II nanti, Jerman akan bergabung dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Inggris dalam mengoperasikan salah satu helikopter angkut paling canggih di dunia, menjadikannya tulang punggung transportasi berat militer mereka selama beberapa dekade mendatang. (RNS)

