AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Finlandia dilaporkan harus bersiap merogoh kocek lebih dalam untuk mempertahankan relevansi armada jet tempur siluman F-35 Lightning II miliknya.
Hal ini terjadi seiring dengan laporan terbaru mengenai penundaan kronis dan lonjakan biaya pada paket modernisasi Block 4.
Helsinki yang telah memesan 64 unit F-35A, kini menghadapi realitas bahwa biaya untuk meningkatkan pesawat ke standar Block 4 akan jauh lebih tinggi dari estimasi awal.
Program Block 4 secara global telah mengalami pembengkakan biaya lebih dari 6 miliar USD (sekitar Rp95 triliun).
Laporan dari Government Accountability Office (GAO) Amerika Serikat mengindikasikan bahwa pengembangan penuh Block 4 tidak akan selesai setidaknya hingga tahun 2031. Ini merupakan penundaan lima tahun dari jadwal asli.
“Modernisasi Block 4 kini memiliki kapabilitas yang lebih sedikit, jadwal yang lebih lama, dan biaya yang belum pasti hingga kantor program menyelesaikan estimasi biaya baru,” tulis GAO dalam laporannya.
Meskipun biaya meningkat, versi Block 4 yang akan diterima kemungkinan akan memiliki fitur yang lebih sedikit dari yang dijanjikan semula.
Hal ini disebabkan oleh keputusan Pentagon untuk memangkas cakupan proyek demi mempercepat pengiriman yang terus tertunda.
Penundaan ini dipicu oleh masalah pada Technology Refresh 3 (TR-3) —pembaruan perangkat keras dan lunak yang menjadi “otak” bagi Block 4— serta kebutuhan akan peningkatan sistem pendingin dan mesin yang baru akan siap diproduksi massal pada dekade berikutnya.
Sebagai salah satu pengguna baru yang mengharapkan pesawat dengan teknologi terdepan, Finlandia berada dalam posisi sulit.
Meskipun pengiriman pesawat dijadwalkan mulai tahun 2026, unit-unit awal kemungkinan besar belum membawa fitur Block 4 yang lengkap.
Helsinki harus mendanai peningkatan tersebut secara bertahap di masa depan untuk memastikan armada mereka mampu menghadapi ancaman modern di wilayah Nordik.
Situasi ini menambah tekanan pada anggaran pertahanan Finlandia yang sedang bertransformasi sejak bergabung dengan NATO.
Ketergantungan pada rantai pasok dan pengembangan AS membuat negara-negara sekutu harus ikut menanggung risiko finansial dari dinamika proyek F-35. (RNS)

