AIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat dilaporkan tengah mempercepat pengembangan dan produksi rudal udara ke udara generasi terbaru, AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM).
Upaya ini diambil melalui peningkatan anggaran yang sangat signifikan dalam proposal anggaran pertahanan terbaru pemerintah AS guna memastikan keunggulan udara di masa depan.
Berdasarkan dokumen yang dirilis baru-baru ini, anggaran untuk program AIM-260 melonjak tajam dari 894 juta USD (sekitar Rp14,2 triliun) pada tahun fiskal 2026 menjadi 2,9 miliar USD (sekitar Rp46 triliun) pada tahun fiskal 2027.
Eskalasi pendanaan yang masif ini menandakan bahwa Pentagon sedang menempatkan proyek ini di jalur cepat (fast-track) untuk segera dioperasikan oleh militer.
Saingi PL-15 China
Langkah percepatan ini dipicu oleh kebutuhan mendesak untuk menandingi kemajuan teknologi rudal jarak jauh China, khususnya rudal PL-15, yang dianggap mengancam dominasi udara AS.
AIM-260 dirancang untuk memiliki jangkauan yang lebih jauh dan performa yang lebih unggul dibandingkan sistem rudal yang ada saat ini.
Rudal ini akan memberikan pilot-pilot AS keuntungan “tembakan pertama” (first-shot advantage) dalam pertempuran udara.
Rudal buatan Lockheed Martin ini diproyeksikan untuk menggantikan atau melengkapi peran AIM-120 AMRAAM, yang telah menjadi andalan AS sejak tahun 1990-an.
Beberapa poin kunci yang membuat AIM-260 menjadi senjata yang mematikan meliputi jangkauan ekstrem rudal ini.
Diperkirakan JATM memiliki jangkauan lebih dari 200 km, memungkinkan pesawat tempur AS menyerang musuh sebelum mereka sendiri masuk ke dalam jangkauan tembak lawan.
Rudal menggunakan motor roket pulsa ganda (dual-pulse solid rocket motor) yang memberikan dorongan berkelanjutan, sehingga rudal tetap memiliki energi kinetik tinggi untuk bermanuver di fase akhir serangan.
Selain itu, rudal ini juga dilengkapi dengan pencari sasaran (seeker) generasi terbaru berbasis radar AESA yang sangat tahan terhadap gangguan elektronik (electronic warfare) lawan.
Meskipun kemampuannya meningkat pesat, bentuk fisik AIM-260 tetap sama dengan AMRAAM.
Hal ini memastikan rudal dapat masuk ke dalam ruang senjata internal (internal weapon bay) pesawat siluman seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II tanpa merusak fitur siluman mereka.
AIM-260 juga dirancang untuk beroperasi dalam arsitektur perang modern yang saling terhubung.
Rudal ini dapat menerima pembaruan target secara waktu nyata dari platform lain, seperti pesawat peringatan dini (AWACS) atau sensor berbasis luar angkasa.
Dengan teknologi ini, pesawat yang meluncurkan rudal tidak harus terus-menerus mengunci radar pada target, sehingga meningkatkan peluang bertahan hidup sang pilot.
Pentagon berkeinginan untuk memulihkan dominasi udara di wilayah-wilayah dengan tingkat ancaman tinggi, seperti Indo-Pasifik.
Dengan AIM-260, AS berharap dapat memperkuat daya detensi dan memastikan kemenangan dalam konflik intensitas tinggi di masa depan. (RNS)

