AIRSPACE REVIEW – Pemerintah India telah menandatangani kesepakatan besar senilai 47 juta USD (sekitar Rp740 miliar) dengan perusahaan Rusia, Rosoboronexport.
India memutuskan untuk menambah armada sistem pertahanan udara Tunguska guna memperkuat militer mereka dari ancaman drone dan rudal.
Di era perang modern, ancaman tidak hanya datang dari pesawat tempur besar, tapi juga dari drone kecil dan rudal yang terbang rendah.
Sistem Tunguska dianggap sebagai “perisai maut” karena memiliki dua keunggulan sekaligus dalam satu kendaraan.
Rudal 9M311 yang digunakan bisa menembak jatuh target dalam jarak 8–10 km.
Sementara dua meriam otomatis kaliber 30 mm bisa menembakkan 5.000 peluru per menit untuk menghancurkan target jarak dekat, hingga 4 km.
Sistem pertahanan udara Tunguskan memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya, menggunakan roda rantai (seperti tank), sehingga bisa berjalan beriringan dengan pasukan infanteri dan tank di medan perang yang sulit.
Kemudian dilengkapi radar canggih serta sensor optik yang membuatnya tetap bisa membidik musuh meskipun lawan mencoba mengacaukan sinyal elektroniknya.
Sistem ini bisa mendeteksi musuh dalam radius 360 derajat dan berganti mode dari rudal ke meriam dalam sekejap.
India sebenarnya sudah memiliki banyak sistem pertahanan, mulai dari sistem pertahanan udara jarak jauh seperti rudal Akash hingga jarak pendek seperti Starstreak. Tunguska mengisi celah kritis sebagai pertahanan lini depan.
Sistem ini bertugas melindungi unit tempur di garis depan dari serangan mendadak, seperti kawanan drone (drone swarms) atau rudal jelajah yang terbang sangat rendah dan sulit dideteksi oleh radar jarak jauh.
Keputusan India untuk memperkuat armada Tunguska juga didorong oleh perubahan gaya peperangan di perbatasan yang kini banyak menggunakan drone murah namun mematikan.
Sistem pertahanan rudal besar seringkali terlalu mahal atau terlalu lambat untuk menembak jatuh drone kecil atau amunisi pintar (loitering munitions).
Dengan kombinasi meriam 30 mm yang memiliki daya tembak tinggi, Tunguska memberikan solusi ekonomis dan efektif untuk menyapu bersih ancaman udara yang datang dalam jumlah banyak sekaligus (serangan kawanan) sebelum mereka sempat mendekati pasukan darat.
Secara diplomatis, kesepakatan senilai $47 juta ini menegaskan bahwa Rusia tetap menjadi mitra pertahanan utama India, meskipun New Delhi sedang gencar melakukan diversifikasi senjata dari negara Barat dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.
Pengadaan ini memastikan bahwa unit-unit kavaleri dan lapis baja India tetap memiliki perlindungan udara yang terintegrasi secara teknis dengan sistem yang sudah ada.
Dengan penambahan unit baru ini, militer India semakin percaya diri dalam menjaga kedaulatan wilayahnya dari ancaman udara yang terus berevolusi di masa depan. (RNS)

