AIRSPACE REVIEW – Sebuah laporan yang ditulis oleh The Wall Street Journal (WSJ) hari ini, 4 Februari 2026, menyatakan bahwa sebuah jet tempur F/A-18 Hornet milik Angkatan Udara Kuwait (KAF) menjadi penyebab tertembaknya tiga pesawat F-15E Angkatan Udara AS (USAF) secara tidak sengaja pada Minggu (1 Februari).
WSJ memberitakan hal ini dengan mengutip tiga orang sumber yang mengetahui laporan awal mengenai insiden tersebut.
Disebutkan bahwa seorang pilot F/A-18 Hornet Kuwait meluncurkan tiga rudal ke arah pesawat F-15E AS, mengakibatkan ketiga jet berkursi tandem itu jatuh, namun para pilotnya selamat setelah melontarkan diri dari pesawat.
Ditambahkan bahwa insiden penembakan tersebut terjadi tak lama setelah beberapa drone Iran menembus pertahanan udara Kuwait.
Satu drone menghantam pusat operasi taktis di pelabuhan komersial dan menewaskan enam anggota militer AS.
Sementara itu, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait insiden jatuhnya tiga F-15E di Kuwait.
Dia mengatakan bahwa saat ini investigasi sedang dilaksanakan untuk mengetahui penyebab sesungguhnya, yang menurutnya bisa saja berubah.
Analsisis Awal AR
Mencermati insiden yang terjadi di Kuwait, tertembaknya tiga jet F-15E Strike Eagle USAF oleh F/A-18 Hornet “Legacy” Angkatan Udara Kuwait (KAF), memang terdapat sejumlah kejanggalan yang pada akhirnya dapat mengarah pada kegagalan Identifikasi Kawan atau Lawan (IFF Failure)
Sistem Identification Friend or Foe pada pesawat F/A-18 Hornet kemungkinan mengalami malfungsi atau terjadi kesalahan interpretasi data radar secara masif.
Hal ini juga kemungkinan akibat kesalahan koordinasi darat dan kegagalan enkripsi data link, yang mengakibatkan pilot jet Hornet KAF mengidentifikasi ketiga F-15E sebagai ancaman penyusup.
Dalam hitungan detik, Hornet meluncurkan rudal udara ke udara terhadap ketiga Strike Eagle.
Apakah malfungsi IFF dan sistem data link yang digunakan, Link 16, diakibatkan oleh adanya gangguan elektronik (electronic interference) dari pihak ketiga?
Jawabannya, bisa saja. Dan ini yang harus ditelusuri karena akan memperparah kebingungan di radar dalam misi-misi berikutnya.
Gangguan sinkronisasi menyebabkan ketiga jet F-15E keluar dari jaringan aman, yang kemudian menyebabkan sistem radar pada F/A-18 Hornet secara otomatis mengategorikan ketiga F-15E sebagai jejak radar musuh (Bogey) yang tidak dikenal.
Tidak dapat “disalahkan” juga bila pilot Hornet menembak jet F-15E dalam situasi dengan status siaga tinggi, penuh ketidakpastian di tengah serangan AS-Israel terhadap Iran. Dalan situasi perang, tentu pilihannya adalah membunuh musuh atau dibunuh musuh.
Jet F-15E dan F/A-18 sama-sama dibuat oleh Boeing. Logika awam mengatakan, kedua pesawat tentunya menggunakan protokol komunikasi yang seharusnya saling “mengenali”.
Kesuksesan satu Hornet menjatuhkan tiga Strieke Eagle sejatinya adalah suatu “prestasi”, paling tidak menunjukkan efektivitas dari tiga rudal yang diluncurkan Hornet model “Legacy” KAF ini.
Kembali ke dugaan awal, apakah sudah terjadi sabotase siber pada jaringan Link 16 yang digunakan oleh USAF dan KAF?
Kalau ternyata betul, maka AS dan sekutu harus merevisi sistem tautan data ini agar lebih kebal gangguan elektronik musuh.
Beruntung bahwa keenam awak F-15E (tiga pilot dan tiga Weapon Systems Officers) berhasil eject dari pesawat dan semuanya selamat.
Batal Dibeli oleh Malaysia
Menarik juga untuk dicermati bahwa jet tempur Hornet KAF ini adalah yang batal dibeli oleh Malaysia.
Sebelum insiden ini, Malaysia melalui Panglima Angkatan Tentara dan Kementerian Pertahanan telah berulang kali menyatakan minat mendalam untuk membeli 33-39 armada F/A-18C/D Hornet KAF.
Malaysia ingin menambah kekuatan skuadron Hornet mereka yang sudah ada di Skadron 18 Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM), karena performanya yang sangat memuaskan di ruang udara regional.
Hornet Kuwait dianggap sebagai “barang antik berkualitas tinggi” karena jam terbangnya yang relatif rendah dan pemeliharaan yang sangat baik.
Akan tetapi, rencana yang sudah digagas sejak tahun 2021 ini pada akhirnya dibatalkan sendiri oleh Kuala Lumpur, setelah TUDM mempertimbangkan banyak hal, terutama terkait jaminan logistik dan sinkronisasi sistem.
Izin penjualan sistem persenjataan buatan Amerika ke pihak ketiga, memerlukan waktu yang lama. Ditambah lagi dengan faktor penundaan pengiriman F/A-18E/F Block III Super Hornet yang akan dibeli Kuwait sebagai pengganti armada F/A-18C/D Kuwait ini. (RNS)


IFF jadi kambing hitam, padahal mungkin saja bini si pilot hornet keturunan iran, maka terpaksa harus nurut sama perintah biniππππ
Mantap… triple kill…