AIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat dengan cepat telah memperkuat kehadiran udaranya di Eropa dan Timur Tengah dengan mengerahkan enam pesawat peringatan dini dan kendali E-3 Sentry.
Ini artinya AS mengerahkan sekitar 40% dari armada operasional E-3 Angkatan Udara AS (USAF) yang tersisa.
Pengerahan ulang ini terjadi dalam beberapa hari terakhir, mencakup pesawat dari daratan AS dan Alaska.
Pengamat menilai, pergerakan kekuatan udara ini menandai peningkatan kesiapan yang signifikan dalam menghadapi meningkatnya ketegangan dan potensi perang dengan Iran.
Awalnya ditempatkan di pangkalan-pangkalan strategis di Eropa, E-3 Sentry kemudian menjadi bagian dari struktur komando dan kendali yang lebih besar yang berfokus pada wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS.
Data pelacakan penerbangan menunjukkan, beberapa pesawat AWACS (Airborne Warning and Control System) AS menuju ke Timur Tengah, di mana sudah ada konsentrasi jet tempur di sana.
Demikian juga dengan pesawat-pesawat pengisian bahan bakar di udara (tanker) dan aset-aset intelijen AS telah berada di Timur Tengah.
Citra satelit terbaru mengungkapkan aktivitas intensif di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi dan di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Terlihat di kedua pangkalan udara kehadiran pesawat AWACS, pesawat tanker, dan pesawat kargo logistik. Hal ini mengindikasikan adanya persiapan infrastruktur yang mampu mendukung operasi udara.
Pengerahan aset-aset tempur AS ke Timur Tengah dan Eropa kali ini, mengingatkan kita pada langkah serupa yang dilakukan AS pada akhir tahun lalu dan awal Januari 2025.
Pada tanggal 3 Januari dini hari, AS menggelar “Operasi Tekad Mutlak” (Operation Absolute Resolve) untuk menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dari kediaman mereka di Caracas ke Amerika Serikat guna diadili.
Pengerahan pesawat E-3 Sentry AWACS ke Timur Tengah, memungkinkan koordinasi formasi tempur besar, integrasi misi multinasional, dan peningkatan kesadaran situasional dalam lingkungan operasional yang semakin kompleks.
Pesawat E-3 dilengkapi dengan radar berputar yang dipasang di badan pesawat, guna memantau ratusan kilometer wilayah udara dan mengirimkan data secara waktu nyata ke jet-jet tempur, pusat komando, dan unit angkatan laut.
Dalam skenario intensitas tinggi, platform ini bertindak sebagai pusat kendali udara sejati, mengoordinasikan intersepsi, mengendalikan aliran pesawat kawan, dan meningkatkan efisiensi operasi ofensif dan defensif.
Seperti banyak diberitakan, Presiden AS Donald Trump telah menetapkan batas waktu selama 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk menyepakati persyaratan yang diajukan Washington.
Pernyataan ini mulai mengemuka sekitar tanggal 19-20 Februari 2026, ketika Trump menyatakan bahwa dalam periode waktu tersebut dunia akan mengetahui apakah kesepakatan akan tercapai melalui diplomasi atau apakah AS harus mengambil “langkah lebih jauh” (berupa opsi militer).
Washington menekan Teheran untuk menyetujui kesepakatan baru yang jauh lebih ketat daripada perjanjian sebelumnya.
Usulan yang diajukan pemerintahan Trump terhadap Teheran adalah bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, pembatasan terhadap pengembangan rudal jarak jauh, dan penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.
Beberapa hari lalu utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, melakukan pembicaraan tidak langsung dengan pihak Iran di Jenewa, Swiss, dengan bantuan mediator dari Oman.
Namun, pihak Iran melalui negosiatornya dikabarkan tetap pada posisi mereka bahwa program rudal adalah masalah kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan.
Hal itu menyebabkan pertemuan tidak menghasilkan kesepakatan tertulis yang konkret alias deadlock.
Satu-satunya hasil yang dianggap cukup positif adalah adanya kesepahaman tidak tertulis untuk menjaga jalur komunikasi darurat tetap terbuka guna mencegah insiden militer yang tidak disengaja di Teluk Persia selama masa tenggat waktu 10-15 hari tersebut.
Mari kita nantikan perkembangan berikutnya dalam beberapa hari ke depan yang sangat krusial ini. (RNS)

