Saab tawarkan produksi jet tempur Gripen E di India, mampukah meruntuhkan dominasi Rafale yang sudah hampir pasti dipilih New Delhi?

Istimewa

AIRSPACE REVIEW – Industri pertahanan Saab dari Swedia, telah menawarkan kepada New Delhi jet tempur generasi 4,5, Gripen E/F, dengan produksi pesawat dapat dilakukan di industri dalam negeri India.

Penawaran tersebut telah disampaikan dalam proposal komprehensif kepada Pemerintah India di ajang Singapore Airshow 2026, minggu lalu.

Saab menawarkan solusi kepada India untuk mengatasi kekurangan pesawat tempur yang dihadapi oleh Angkatan Udara India (IAF).

Dikatakan bahwa India dapat mengakuisisi Gripen E/F termasuk mengembangkan rencana industri dalam negeri India, mencakup desain, manufaktur, transfer teknologi, serta dukungan logistik di seluruh siklus hidup dengan melibatkan lebih dari 300 perusahaan India di berbagai tingkatan rantai produksi.

Bila kesepakatan tercapai dan kontrak akuisisi telah berlaku efektif, lanjut Saab, pengiriman awal Gripen E dapat dimulai paling cepat pada tahun ketiga.

Rencana tersebut memperkirakan unit pertama akan diproduksi di Swedia, sementara infrastruktur industri India akan dipersiapkan secara paralel, sehingga memungkinkan migrasi jalur perakitan yang cepat ke negara di Asia Selatan tersebut.

Saab berpendapat, cara seperti ini akan mengurangi risiko, sekaligus mempercepat pengoperasian dan memungkinkan peningkatan kapasitas produksi lokal secara bertahap dan intensif.

Secara operasional, Saab memosisikan Gripen E sebagai pelengkap bagi pesawat Angkatan Udara India saat ini.

Perusahaan tersebut menggambarkan Rafale sebagai pesawat tempur berkinerja tinggi yang ditujukan untuk misi serangan jarak jauh, jangkauan jauh, dan muatan besar. Sementara Tejas buatan India memenuhi peran memperkuat jumlah dan mempertahankan produksi nasional.

Adapun Gripen E dalam konteks ini, akan menempati posisi menengah, menawarkan kemampuan multiperan tingkat lanjut, ketersediaan operasional yang tinggi, dan biaya operasional yang lebih rendah.

Dengan Gripen, lanjut Saab, IAF dapat meningkatkan jumlah pesawat yang siap menjalankan misi dan menyimpan aset yang lebih mahal untuk tugas-tugas yang lebih kompleks.

Saat ini Angkatan Udara India mengoperasikan jet tempur Su-30MKI, MiG-29, Mirage 2000, Rafale, Tejas, dan Jaguar, tetapi jumlah skuadron masih jauh di bawah tingkat yang diharapkan yaitu 42 unit.

Pensiunnya pesawat yang lebih tua, seperti MiG-21, dan keterlambatan dalam mendatangkan pengganti telah memperburuk defisit jumlah pesawat tempur IAF. Hal ini membebani kapasitas operasional dan membutuhkan solusi jangka pendek dan menengah.

Dari sudut pandang teknologi, Gripen E dipresentasikan sebagai platform yang sangat berorientasi pada fusi sensor dan peperangan elektronik.

Pesawat tempur ini mengintegrasikan radar AESA Raven ES-05, sistem pencarian dan pelacakan inframerah, dan rangkaian peperangan elektronik internal dengan cakupan 360 derajat.

Salah satu argumen utama Saab adalah arsitektur terbuka dari sistem misinya, yang memisahkan perangkat lunak penerbangan kritis dari aplikasi tempur.

Hal itu memungkinkan operator untuk mengembangkan, mensertifikasi, dan memperbarui perangkat lunaknya sendiri dengan ketergantungan yang lebih sedikit pada pabrikan aslinya.

Saab menekankan konsep operasional Gripen E yang dapat dioperasikan dari pangkalan yang tersebar, landasan pacu pendek, dan bahkan bagian jalan yang sudah disiapkan, jet tempur ini dirancang untuk mempertahankan kemampuan bertahan hidup dan ketahanan yang tinggi dalam skenario intensitas tinggi.

Pabrikan menyatakan bahwa pesawat dapat diisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali dalam waktu kurang dari 15 menit dalam misi udara ke udara, menggunakan awak darat yang lebih sedikit, yang memungkinkan tingkat sorti yang tinggi bahkan di lingkungan dengan infrastruktur terbatas atau di bawah ancaman.

Saab juga menekankan bahwa Gripen E dirancang sebagai platform yang terus berkembang, siap untuk pembaruan perangkat lunak yang sering dan integrasi solusi nasional di masa depan, termasuk aplikasi kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh operator itu sendiri.

Menurut perusahaan, pendekatan ini mengurangi risiko periode waktu henti armada yang lama dan menghindari ketergantungan berlebihan pada jadwal modernisasi eksternal.

Tantangan Terberat Saab: Meruntuhkan Rafale

Bila kita cermati penawaran Saab terhadap India, di satu sisi memang memberikan “jalan keluar” cepat bagi New Delhi yang membutuhkan pesawat tempur tambahan untuk melengkapi armada tempur IAF.

Namun, langkah Saab ini bersamaan dengan tawaran Prancis dengan armada Rafale, yang dinilai analis sangat kuat peluangnya di India.

Seperti banyak diberitakan, Paris secara gencar telah mendekati New Delhi dengan tawaran yang tidak kalah menjanjikan dibanding tawaran dari Saab.

Pemerintah India dikabarkan akan memberikan Acceptance of Necessity (AoN), izin prinsip sebelum negosiasi harga, untuk pembelian 114 Rafale dari Prancis, yang disebut-sebut akan tercapai paling cepat bulan ini.

Diperkirakan nilai kontrak yang akan disepakati mencapai sekitar 39 miliar USD (lebih Rp600 triliun).

Rencananya, 18 unit akan dibeli langsung dari Prancis (fly-away condition), sementara 96 unit Rafale sisanya akan diproduksi di India melalui kemitraan dengan industri lokal seperti Tata Advanced Systems sesuai visi Make in India.

Meskipun ada pesaing lain seperti Boeing F-15EX, Eurofighter Typhoon, dan Saab Gripen, Dassault Rafale memiliki keunggulan “jalan tol” karena India sudah mengoperasikan 36 unit Rafale oleh IAF.

Dengan begitu, infrastruktur perawatan, simulator, dan pangkalan sudah tersedia. Menambah pesawat yang sama, artinya akan jauh lebih murah dan cepat dibanding membangun ekosistem baru untuk pesawat berbeda.

Angkatan Laut India juga sudah memilih 26 Rafale-M untuk kapal induk mereka. Sehingga, jika IAF kemudian mengambil Rafale lagi, India akan memiliki keseragaman suku cadang yang besar dalam hal interoperabilitas.

Prancis menjanjikan akan memberikan akses teknologi tanpa banyak syarat politik (no strings attached).

Prancis diuntungkan karena dapat dikatakan seluruh komponen Rafale diproduksi oleh perusahaan Prancis, yang artinya tanpa intervensi asing.

Berbeda dengan Saab Gripen yang masih menggunakan komponen-kompoen buatan AS, Rafale memiliki nilai plus karena hampir seratus persen komponennya buatan perusahaan Prancis.

Lepas dari semua hal itu, mari kita membuka pandangan bahwa peluang tetap terbuka bagi Saab, maupun produsen jet tempur pesaing lainnya.

Kita tunggu apakah ada kejutan bagi Saab, atau India sudah tak bisa bepindah ke lain hati, kecuali Rafale? (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *