AIRSPACE REVIEW – Perusahaan pertahanan utama Singapura, ST Engineering, meluncurkan drone kamikaze EagleStrike, sebuah sistem otonom sepenuhnya yang dirancang untuk mendukung operasi darat.
Dilengkapi dengan muatan mode ganda yang dapat disesuaikan, EagleStrike sangat efektif karena menghilangkan kebutuhan pasukan darat untuk menghancurkan target di lingkungan operasi yang diperebutkan, kata Jackson Tean, pemimpin bisnis internasional di ST Engineering.
“Amunisi loitering ini dapat berkeliaran. Dan ketika telah menemukan target bernilai tinggi, ia akan langsung meluncur ke arahnya, dan itu menghilangkan (kebutuhan akan) situasi pertempuran jarak dekat, di mana seorang prajurit perlu berada sangat dekat dengan target,” ujarnya dikutip National Defense sehari menjelang Singapore Airshow 2026.
Ia menambahkan, drone kamikaze EagleStrike menawarkan kepada penggunanya keuntungan taktis.
Dengan jangkauan 20 kilometer, daya tahan hingga 30 menit, dan kecepatan maksimum 30 m/detik, EagleStrike dapat diluncurkan dari kendaraan yang dirancang khusus untuk mendukung kampanye darat guna menyasar target bernilai tinggi, termasuk kendaraan lapis baja.
Sementara itu, Tack Ching Chan, manajer pengembangan bisnis senior di ST Engineering, mengatakan meskipun EagleStrike sepenuhnya otonom, ST Engineering melakukan beberapa pengamanan siber untuk tetap melibatkan manusia guna memastikan pengoperasiannya aman.
“Jika terjadi sesuatu pada pesawat tak berawak ini, selalu ada cara untuk memulihkannya dan memastikan Anda dapat mendarat dengan aman atau bahkan terbang ke tempat lain di mana Anda dapat mendaratkannya dengan aman atau meledakkannya,” ujarnya.
Meskipun EagleStrike saat ini masih dalam tahap prototipe, drone ini sudah berada pada Tingkat Kesiapan Teknologi 7, yang bermakna telah didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang relevan.
Lazimnya, Singapura serius dengan pengembangan teknologi dalam negeri hingga akhirnya masuk ke tahap produksi massal.
Apa Kabar Rajata Indonesia?
Bila Singapura baru saja meluncurkan prototipe drone kamikaze EagleStrike buatan ST Engineering, redaksi Airspace Review jadi teringat dengan pengembangan drone sejenis yang dikembangkan di dalam negeri oleh PT Dahana, yang diberi nama Rajata.
Empat tahun lalu, pada Juli 2022, PT Dahana salah satu BUMN bidang pertahanan yang bernaung di bawah DEFEND ID meluncurkan drone kamikaze tersebut.
Menurut Dahana, nama Rajata diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti “Penghancur”. Proyek drone ini dimulai pada Oktober 2021.
Setahun kemudian, pada pelaksanaan Indo Defence 2022 di Jakarta, drone kamikaze ini sempat melambung namanya karena mendapat peninjauan dari Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) saat itu.
Pengembangan Rajata terkesan cepat, menunjukkan akselerasi teknologi dalam negeri, dan menjanjikan harapan besar.
Namun setelah pameran berlalu, informasi mengenai drone ini pun perlahan meredup. Entah karena kurang publikasi atau mungkin proyeknya sudah berhenti, atau menjadi senjata rahasia?
Ada baiknya bila PT Dahana aktif memberitakan atau membuat rilis mengenai pengembangan inovasi teknologi yang digarapnya, di tengah harapan bangsa untuk mandiri. (RNS)

