AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Kerajaan Denmark (RDAF) secara resmi mengakhiri salah satu babak terpanjang dan paling simbolis dalam sejarah penerbangan tempurnya.
Pada tanggal 18 Januari 2026, RDAF melaksanakan penerbangan terakhir jet tempur F-16, menandai pengabdian Fighting Falcon buatan Amerika Serikat selama 40 tahun di RADAF.
Farewell Flight F-16 RDAF dilaksanakan di Pangkalan Udara Skrydstrup di selatan negara yang berlokasi di kawasan Eropa Utara ini.
Momen paling simbolis dari acara tersebut terjadi pada pukul 13.57 waktu setempat, ketika F-16AM dengan nomor registrasi E-008 melakukan pendaratan resmi terakhirnya di pangkalan tersebut.
Beberapa jam sebelumnya, pesawat tersebut telah lepas landas bersama F-16AM E-018 dan E-605 serta F-16BM ET-612 untuk penerbangan formasi terakhir.
Pesawat-pesawat terebut melakukan manuver udara dengan menyalakan mode afterburner pada mesinnya, membuat suasana terasa sangat bergemuruh.
Diperkenalkan pada awal tahun 1980-an, jet tempur F-16 Fighting Falcon, yang awalnya dikembangkan oleh General Dynamics dan kemudian diproduksi secara berkelanjutan oleh Lockheed Martin, merupakan jet tempur fenomenal yang dioperasikan oleh banyak angkatan udara di dunia, termasuk Denmark.
Denmark memperoleh armada F-16 sebagai bagian dari program gabungan Eropa yang luas, yang juga melibatkan Belgia, Belanda, dan Norwegia. Akuisisi pesawat tempur ini, selain untuk pertahanan udara, juga memungkinkan peningkatan industri, logistik, dan interoperabilitas dalam aliansi NATO.
Secara total, Denmark menerima 77 F-16, terdiri dari varian F-16A dan F-16B, yang semuanya kemudian ditingkatkan ke standar F-16AM/BM.
Peningkatan kapabilitas melalui program Pembaruan Pertengahan Masa Pakai (Mid-Life Update/MLU) tersebut mencakup radar baru, avionik digital, tautan data, dan kemampuan untuk menggunakan persenjataan presisi modern.
Denmark adalah salah satu pelopor program MLU F-16. Meskipun pesawat-pesawat ini sudah terbang sejak era 80-an, Denmark terus melakukan pemutakhiran pada sistem avionik, radar, dan kemampuan senjatanya.
Hasilnya, F-16 Denmark yang tua secara usia kronologis sebenarnya memiliki “otak” yang hampir setara dengan varian F-16 yang jauh lebih modern.
Itulah salah satu yang menyebabkan armada F-16 Denmark sangat diburu dan diminati saat dipensiunkan.
Argentina adalah salah satu negara yang kemudian mengakuisisi 24 F-16AM/BM Denmark. Pengiriman enam pesawat F-16 pertama Denmark ke Argentina telah dimulai pada bulan Desember 2025 dan dijadwalkan selesai seluruhnya pada tahun 2028.
Selain dibeli oleh Argentina, Ukraina juga menyumbangkan 19 F-16AM/BM ke Ukraina.
Berbagai Misi
Selama masa operasionalnya, jet F-16 Denmark berpartisipasi dalam berbagai misi patroli udara di seluruh Eropa utara, latihan internasional berskala besar, dan operasi nyata di luar negeri.
F-16 Denmark digunakan dalam kampanye di Balkan, Afghanistan, dan Timur Tengah, selain memainkan peran penting dalam operasi NATO di Libya pada tahun 2011.
Misi-misi tersebut memperkuat reputasi RDAF sebagai salah satu kekuatan yang sangat terintegrasi ke dalam koalisi multinasional dan mampu beroperasi dalam skenario yang sangat kompleks.
F-16 Denmark telah membuktikan ketangguhannya. Pesawat ini digunakan selama 40 tahun untuk menjaga wilayah udara Greenland, pulau terluas di dunia yang merupakan bagian dari Denmark.
Menerbangkan jet tempur bermesin tunggal di atas hamparan es yang sangat luas dengan cuaca yang sangat ekstrem bukan tanpa risiko, terlebih lagi jarak dengan pangkalan yang sangat jauh.
Beralih ke F-35A Lightning II
Perpisahan dengan armada F-16, memberikan makna historis yang kuat bagi Angkatan Bersenjata Denmark, khususnya RDAF.
Jenderal Christian Hvidt, mantan Kepala Pertahanan Denmark, pilot pertama yang membawa F-16 Denmark dari AS ke Pangkalan Udara Skrydstrup 46 tahun yang lalu, mengaku punya banyak kesan mendalam dengan F-16.
Namun ia menekankan bahwa penggunaan yang panjang jet F-16 oleh RDAF, adalah berkat keunggulan teknis tim perawatan dan kualifikasi pilot yang telah mengoperasikannya.
Dengan penghentian operasional F-16 secara definitif, RDAF kini menyelesaikan transisi menuju armada yang sepenuhnya berbasis pada F-35A Lightning II, jet tempur generasi kelima yang kini akan mengambil alih semua misi pertahanan udara dan serangan Denmark.
Awalnya, Denmark memesan 27 F-35A dalam kontrak yang ditandatangani pada tahun 2016.
Pada Oktober 2025, Pemerintah Denmark mengesahkan pembelian 16 pesawat lagi, sehingga total F-35 yang diakuisisi berjumlah 43 unit. (RNS)

