160th SOAR “Night Stalkers”: Unit elite militer AS yang menjadi hantu dini hari di atas Caracas

160th SOAR Night Stalkers_ Airspace ReviewVia X

AIRSPACE REVIEW – Sejak dibentuk setelah kegagalan Operasi Eagle Claw pada tahun 1980, 160th Special Operations Aviation Regiment (Resimen Penerbangan Operasi Khusus), atau yang lebih populer dengan sebutan “Night Stalkers”, telah menjadi standar emas untuk penerbangan tempur operasi khusus tingkat dunia.

Keberadaan mereka seolah menjadi jaminan bahwa tidak ada misi yang dianggap terlalu jauh atau terlalu berbahaya, terutama dalam operasi di kegelapan malam.

Pada dini hari tanggal 3 Januari 2026, sekitar pukul 01.01 waktu Caracas, dunia seakan menahan napas menyaksikan laporan langsung di berbagai platform media, mengenai manuver berani armada helikopter militer AS di atas jantung Venezuela untuk menculik Presiden Nicolás Maduro.

Dalam laporan pertama dari peristiwa itu, cuplikan video beredar media sosial, memperlihatkan bola-bola api yang meluncur sebagai bagian dari serangan-serangan udara terhadap target-target vital di Caracas.

Deru helikopter melengkapi keheningan malam, diantara ledakan-ledakan yang terdengar dan sebagian jaringan listrik di ibu kota Venezuela itu mati. Kegentingan tercipta, operasi militer AS dimulai.

“Night Stalkers”, nama itu sontak mencuat. Dalam ketinggian yang rendah, helikopter-helikopter militer yang tampak sebagai siluet itu terbang di atas pucuk pepohonan menuju kediaman Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang berada di kompleks militer Fuerte Tiuna, berjarak sekitar 13 km dan Istana Miraflores di Caracas,

Tidak ada bentuk perlawanan militer Venezuela yang terlihat di cuplikan video. Operasi kilat untuk menangkap orang nomor satu di Venezuela dan membawanya ke Amerika itu berhasil dilakukan.

Si Pengintai Malam

160th SOAR “Night Stalkers” dibentuk oleh Angkatan Darat AS (US Army) tahun 1981 sebagai satuan penerbangan militer untuk mendukung operasi-operasi klandestin, khususnya di malam hari.

Operasi malam hari, umumnya dipilih untuk memuluskan jalannya operasi, di mana musuh/target sedang berada pada kesiapan yang rendah. Operasi di kegelapan juga dipilih agar musuh kesulitan untuk melakukan pendeteksian secara visual.

Untuk melancarkan operasinya, 160th SOAR dibekali beragam peralatan teknologi maju, termasuk kaca mata penglihatan malam (Night Vision Goggles/NVG) yang menjadi peralatan standar.

Helikopter yang digunakan, dilengkapi dengan radar medan (terrain-following radar), dan peralatan penerbangan canggih lainnya yang memungkinkan mereka terbang sangat rendah dan sangat cepat menuju sasaran dalam kegelapan malam.

Misi pengintaian, penguntitan, pengincaran, hingga mendekati mangsa dilakukan sebagai bagian dari kegiatan Stalking. Sifat operasi malam hari dan sifat kegiatan yang dilakukan, inilah makna dari nama “Night Stalkers” yang melekat menjadi julukan 160th SOAR.

Dalam melaksanakan tugas utamanya, satuan ini membawa pasukan khusus yang sangat terlatih, seperti Delta Force atau SEAL Team Six ke titik sasaran yang menjadi target operasi bernilai tinggi, HVT (High-Value Target).

Pasukan-pasukan khusus yang dibawa tersebut, terdiri dari unit-unit kecil dengan personel berkemampuan pertempuran jarak dekat.

Ukuran tim inti (Assault Team) biasanya terdiri dari 5-8 personel (biasa disebut operator) sebagai tim elemen, yang dipimpin oleh Team Leader, biasanya berpangkat Master Sergeant (Peltu) atau Sergeant First Class (Sersan Mayor).

Ada juga pasukan penuh (Assault Unit) yang terdiri dari 3 hingga 4 tim, sehingga total sekitar 25 hingga 35 operator per pasukan.

Dalam menjalankan operasinya, 160th SOAR mengoperasikan helikopter dan sistem pesawat nirawak (UAS) yang telah dimodifikasi secara ekstensif untuk kebutuhan operasi khusus.

Berdasarkan catatan sumber terbuka, satuan ini mengoperasikan helikopter MH-60 Black Hawk dengan varian MH-60M dan MH-60M DAP.

Ini adalah helikopter serbu sedang dan penyerang. DAP merupakan singkatan dari Direct Action Penetrator, di mana helikopter ini dilengkapi dengan persenjataan sebagai helikopter gunship.

Kemudian ada juga helikopter MH-47G Chinook sebagai helikopter serbu dan angkut berat. Lalu ada AH-6M Little Bird sebagai helikpter serbu ringan dan serang ringan.

Untuk UAS, 160th SOAR mengoperasikan drone MQ-1C Gray Eagle, sebagai elemen lain guna melaksanakan fungsi pengintaian.

Bermarkas di Fort Campbell, Kentucky, Amerika Serikat, 160th SOAR “Night Stalker” telah terlibat dalam hampir setiap operasi tempur besar AS, yaitu dimulai pada 1983 dalam Operation Urgent Fury di Grenada.

Kemudian pada tahun 1989 dalam Operation Just Cause di Panama saat menangkap gembong narkotika (versi AS) yaitu Jenderal Manuel Antonio Noriega, penguasa de facto dan Kepala Pasukan Pertahanan Panama (PDF).

Tahun 1993, “Night Stalkers” dilibatkan dalam operasi pertempuran di Mogadishu (Somalia), operasi yang kemudian diangkat dalam buku dan film Black Hawk Down. Dalam misi ini 160th SOAR kehilangan dua helikopter Black Hawk-nya.

Pasca tahun 2001, 160th SOAR kembali dilibatkan dalam operasi-operasi militer seperti Operation Enduring Freedom di Afghanistan dan Operation Iraqi Freedom di Irak, serta misi-misi rahasia lainnya di berbagai belahan dunia.

Referensi Teknik Penerbangan Tempur Malam Hari

Seperti telah disinggung di muka, dengan berbagai pengalaman operasi malam harinya, 160th SOAR telah menjadi pelopor dan referensi teknik penerbangan tempur malam modern angkatan darat di seluruh dunia.

Satuan ini melaksanakan misi-misi berbahaya dengan kecepatan tinggi dan ketinggian yang sangat rendah untuk memasukkan (insertion) dan mengeluarkan (extraction) pasukan khusus ke wilayah musuh, serta membawa target bernilai tinggi seperti dalam kasus terbaru, penculikan Presiden Venezuela dan istrinya.

160th SOAR “Night Stalker” memiliki motto yang melegenda, yaitu “Night Stalkers Don’t Quit!”, yang artinya Night Stalkers Tidak Menyerah!.

Moto ini mencerminkan etos kerja pantang menyerah dalam menghadapi kegagalan misi dan bahaya ekstrem.

Semua prajurit, termasuk pilot, kepala kru, dan personel pendukung yang tergabung dalam 160th SOAR, telah digembleng dan dinyatakan lulus dari kursus induksi yang ketat bernama “Green Platoon”.

Keberhasilan operasi militer yang kompleks, seperti skenario penangkapan HVT di Caracas, sangat bergantung pada kemampuan “Night Stalkers” untuk meminimalkan deteksi dan memaksimalkan kecepatan serangan.

Dalam operasi militer rahasia yang sukses ini, Presiden AS Donald Trump mengapresiasi militernya yang telah menunjukkan kemampuan sebagai militer terbaik di dunia.

“Tidak ada seorang pun prajurit AS yang tewas, dan semua pesawat kembali dengan selamat,” puji Trump atas keberhasilan penculikan orang nomor satu di Venezuela yang telah berkuasa hampir 13 tahun tersebut. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *