AIRSPACE REVIEW – Rusia menyatakan kesiapannya untuk memperluas kerja sama militer dengan negara-negara di Asia Tenggara.
Melalui perusahaan ekspor senjata negara, ROSOBORONEXPORT, Moskow menawarkan berbagai sistem persenjataan pertahanan udara (SAM) yang telah teruji dalam pertempuran nyata.
Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela pameran pertahanan bergengsi Defense Services Asia (DSA) 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 20-23 April.
“Industri pertahanan Rusia telah mengembangkan berbagai sistem pertahanan udara di semua segmen —mulai dari sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) hingga sistem rudal pertahanan udara jarak jauh. Banyak di antaranya telah terbukti sangat efektif dalam pertempuran,” tulis pernyataan resmi ROSOBORONEXPORT dikutip kepada kantor berita TASS.
Salah satu alutsista Rusia yang menjadi sorotan dalam pameran ini adalah sistem rudal dan artileri antipesawat Pantsir-S1M.
Sistem yang dikembangkan oleh High Precision Systems, bagian Rostec, ini memiliki fleksibilitas tinggi untuk diintegrasikan dengan sistem pertahanan udara lainnya.
Perusahaan memaparkan, Pantsir-S1M memiliki keunggulan multiguna, yaitu mampu menggunakan tiga jenis rudal permukaan ke udara, termasuk rudal jarak pendek yang dirancang khusus untuk melumpuhkan pesawat tanpa awak (UAV)/drone.
Selain menghancurkan ancaman dari udara, sistem ini juga mampu menghancurkan target dan fasilitas di darat.
Pantsir-S1M dirancang memiliki mobilitas yang sangat baik dan memiliki kemampuan untuk menembak sambil bergerak.
Varian ini merupakan versi modernisasi mendalam yang dirancang untuk menjawab tantangan peperangan asimetris modern, terutama ancaman dari kawanan drone dan amunisi presisi tinggi.
Secara teknis, Pantsir-S1M mengintegrasikan radar pencari dan pelacak target dengan sistem elektro-optik canggih yang mampu mendeteksi sasaran pada jarak hingga 40 km serta melacak puluhan target secara simultan.
Salah satu pembaruan paling krusial terletak pada penggunaan rudal interseptor baru 57E6M-E yang memiliki kecepatan hipersonik dan jangkauan tembak yang diperluas hingga 30 km dengan ketinggian mencapai 18 km.
Selain rudal, sistem ini tetap mempertahankan dua kanon otomatis 2A38M kaliber 30 mm yang mampu memuntahkan hingga 5.000 butir peluru per menit.
Pantsir-S1M dapat difungsikan sebagai lapisan pertahanan terakhir (close-in weapon system) untuk menghancurkan target dalam jarak dekat atau target darat yang ringan.
Kecanggihan sistem ini juga terletak pada kemampuan adaptasi amunisinya yang kini dapat membawa hingga empat rudal berukuran kecil dalam satu tabung peluncur standar.
Inovasi ini secara khusus ditujukan untuk menghadapi ancaman micro-UAV yang murah, sehingga penggunaan rudal besar yang mahal menjadi lebih efisien secara biaya.
Seluruh perangkat keras Pantsir-S1M dipasang di atas sasis truk lapis baja Kamaz-53958 berpengerak 8X8 yang sangat tangguh, memungkinkan sistem untuk beroperasi di medan berat dan melakukan penembakan saat kendaraan masih melaju.
Dengan integrasi sistem kontrol tembakan berbasis AI, Pantsir-S1M mampu memprioritaskan ancaman secara otomatis, menjadikannya salah satu sistem pertahanan titik (point defense) paling mematikan di kelasnya saat ini. (AF)

