AIRSPACE REVIEW – Intensitas kehadiran aset strategis Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik tampak semakin tinggi. Terbaru, Angkatan Udara AS (USAF) kembali menerjunkan jet tempur siluman F-22 Raptor untuk berlatih bersama jet FA-50PH Fighting Eagle Filipina dalam gelaran Cope Thunder 26-1.
Latihan yang dilaksanakan di Pangkalan Udara Basa dan Clark, Pampanga pada 6-17 April 2026 ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam mempererat integrasi kekuatan udara mereka.
Cope Thunder merupakan latihan bersejarah yang sejak 2023 kembali dihidupkan secara berkala di langit Filipina.
Kehadiran F-22 Raptor, yang dikenal sebagai “predator puncak” di udara, memberikan dimensi teknis yang sangat berharga bagi Angkatan Udara Filipina (PAF).
F-22 membawa keunggulan teknologi stealth, kemampuan supercruise, serta sensor canggih yang sulit ditandingi.
Di sisi lain, FA-50PH Fighting Eagle milik FAP berperan sebagai jet tempur ringan yang lincah dan serbaguna.
Meski berbeda generasi, kedua pesawat ini mampu bekerja sama secara terintegrasi berkat sistem tautan data Link 16.
Dalam sesi latihan ini, kedua negara menguji skenario di mana F-22 berperan sebagai “Quarterback” atau pengatur serangan.
Dengan kemampuan sensornya, F-22 memantau medan tempur tanpa terdeteksi radar lawan, lalu membagikan data tersebut kepada pilot FA-50PH.
Sinergi ini memungkinkan FA-50PH untuk menyerang sasaran secara efektif tanpa harus menyalakan radarnya sendiri.
Analis menilai, meningkatnya frekuensi latihan yang melibatkan jet tempur generasi kelima, mengirimkan pesan kuat dari AS mengenai stabilitas di kawasan, terutama di sekitar Laut China Selatan.
Dalam latihan kali ini, USAF mengerahkan empat unit F-22 Raptor dari Skuadron Ekspedisi Tempur ke-27 yang berbasis di Virginia. Sementara itu, pihak Filipina juga menerjunkan empat unit jet FA-50PH.
Departemen Pertahanan Nasional Filipina mengatakan, secara keseluruhan manuver ini melibatkan sekitar 2.800 personel militer yang mencakup pilot, teknisi, hingga tim pendukung logistik dari kedua belah pihak.
Bagi Filipina, latihan rutin ini menjadi bagian vital dari proses modernisasi alutsista dan peningkatan skill tempur para pilotnya.
Cope Thunder 26-1 menegaskan bahwa koordinasi taktis dan kehadiran fisik aset militer canggih tetap menjadi pilar utama pencegahan konflik di Indo-Pasifik. (RF)

