AIRSPACE REVIEW – Militer Amerika Serikat mulai mengandalkan teknologi drone pencegat berbiaya rendah untuk melindungi pasukannya di Timur Tengah dari serangan udara.
Langkah ini diambil setelah sistem tersebut terbukti efektif melumpuhkan drone kamikaze Rusia di medan perang Ukraina.
Dalam pernyataannya di hadapan Kongres AS, Sekretaris Angkatan Darat (Secretary of the Army) Daniel Driscoll memuji efektivitas sistem drone Merops.
Ia mengungkapkan bahwa Angkatan Darat AS (US Army) telah bergerak cepat dengan memesan sekitar 13.000 unit sistem ini hanya dalam waktu delapan hari setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat.
Meskipun dikembangkan oleh perusahaan asal Amerika Serikat, sistem Merops telah lebih dulu membuktikan ketangguhannya di Ukraina.
Sistem ini sukses menjatuhkan drone Shahed-136 buatan Iran yang digunakan Rusia, sehingga memberikan keyakinan penuh bagi Pentagon untuk mengoperasikannya guna melindungi personel AS di Timur Tengah.
Dari sisi ekonomi, Merops menawarkan keunggulan yang signifikan dalam strategi “kurva biaya”.
Satu unit drone pencegat dalam sistem ini dibanderol seharga kira-kira 15.000 USD (sekitar Rp243 juta). Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan drone Shahed yang diperkirakan berharga antara 30.000 hingga 50.000 USD (Rp486 juta – Rp810 juta).
Driscoll menyatakan bahwa jika produksi diskalakan lebih besar, harganya bahkan bisa ditekan hingga ke angka 3.000 USD per unit (sekitar Rp48,6 juta).
Hal ini memungkinkan AS untuk tidak lagi terus-menerus mengandalkan rudal Patriot yang berharga jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan drone murah.
Sistem Merops dikembangkan melalui inisiatif Project Eagle yang melibatkan perusahaan Swift Beat.
Inti dari sistem ini adalah penggunaan drone pencegat yang dinamakan Surveyor. Drone inilah yang bertindak sebagai “peluru kendali” untuk memburu target di langit.
Drone Surveyor dalam sistem Merops mampu terbang lebih dari 280 km/jam, bahkan cukup cepat untuk mengejar drone bertenaga jet seperti Geran-3.
Drone dilengkapi hulu ledak eksplosif yang menghancurkan target melalui tabrakan langsung (kinetic impact) atau ledakan jarak dekat (proximity fuse).
Surveyor juga dapat beroperasi secara otonom maupun dikendalikan jarak jauh dengan sensor internal untuk pelacakan target secara presisi di tengah penerbangan.
Kecepatan pengadaan 13.000 unit Merops dalam waktu singkat ini merupakan hasil dari reformasi besar-besaran dalam proses akuisisi di Angkatan Darat AS.
Driscoll mengakui bahwa sebelumnya birokrasi mereka sangat lambat, di mana proses pengambilan keputusan yang terdiri dari 16 langkah bisa memakan waktu hingga tujuh tahun. (RNS)

