AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut AS (USN) telah memberikan kontrak kepada Platform Aerospace untuk pembuatan Vanilla, drone ISR (pengintaian, pengawasan, dan intelijen) dengan daya tahan yang sangat lama.
Kontrak senilai 12,8 juta USD ini mencakup sistem pesawat tanpa awak, perangkat keras pendukung, suku cadang, layanan teknik, dan dukungan logistik.
Pekerjaan pembuatan drone akan dilakukan di fasilitas milik Platform Aerospace yang berlokasi di Hollywood, Maryland, dijadwalkan berlangsung hingga Agustus 2026.
Prototipe Vanilla sebelumnya, telah berhasil melaksanakan durasi penerbangan lama dan dapat melakukan misi di luar jangkauan pandangan visual.
Dengan satu misi penerbangan, drone dapat tetap berada di atas target atau mencari target lainnya selama 10 hari atau 192 jam di udara.
Kemampuan tersebut memungkinkan operator darat untuk memantau area luas yang jauh dari lokasi peluncuran tanpa harus mengambil dan meluncurkan kembali pesawat berulang kali.
Drone Vanilla dibekali muatan misi berupa sensor pencitraan multispektral, digunakan untuk penginderaan jarak jauh dan pengawasan.
Perangkat canggih ini memberikan operator kemampuan untuk mengumpulkan citra di berbagai panjang gelombang, termasuk inframerah dan pandangan siang hari.
Drone juga dapat dilengkapi dengan peralatan relai komunikasi, yang secara efektif mengubah pesawat menjadi simpul sinyal udara.
Kemampuan tersebut dapat membantu menjaga hubungan dengan unit taktis yang beroperasi di medan sulit atau di daerah dengan infrastruktur komunikasi terbatas.
Drone Vanilla memiliki berat lepas landas maksimum (MTOW) 272 kg dan membawa muatan 68 kg. Dapat melayang hingga ketinggian maksimum 4.600 m dengan kecepatan jelajah 102 km/jam. (RBS)

