AIRSPACE REVIEW – Otoritas Garda Nasional Udara (ANG) dari berbagai negara bagian di Amerika Serikat melayangkan desakan keras kepada Kongres untuk meningkatkan pengadaan jet tempur secara radikal.
Mereka meminta pembelian antara 72 hingga lebih dari 100 pesawat baru setiap tahun guna memastikan posisi AS tidak tersalip oleh kemajuan militer China yang kian pesat.
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran mendalam bahwa armada Angkatan Udara AS (USAF) saat ini tengah mengalami krisis penuaan yang serius, sementara China terus mempercepat produksi pesawat tempur generasi kelima mereka.
Para jenderal Garda Nasional menekankan bahwa modernisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan strategis.
Fokus utama desakan ini adalah pengadaan jet tempur siluman F-35A Lightning II dan pesawat tempur berat F-15EX Eagle II.
Meskipun target minimal yang dianggap aman adalah 72 pesawat per tahun, para pemimpin militer menegaskan bahwa angka 100 unit per tahun adalah target ideal untuk mengganti pesawat-pesawat peninggalan era Perang Dingin yang sudah mencapai batas usia pakainya.
Tanpa percepatan ini, keunggulan udara AS dalam potensi konflik intensitas tinggi di masa depan berada dalam ancaman besar.
Krisis ini paling terasa di unit-unit Garda Nasional. Saat ini, Garda Nasional mengelola sekitar 45% dari seluruh kekuatan tempur udara AS, namun banyak skadron mereka masih mengandalkan F-16 versi lama yang pemeliharaannya kian mahal dan rumit.
“Banyak unit kami yang masih beroperasi dengan teknologi lama sementara musuh potensial telah melompat ke generasi baru,” ujar salah satu otoritas militer.
“Angkatan Udara Amerika Serikat adalah yang tertua, terkecil, dan paling tidak siap dalam sejarahnya yang berusia 78 tahun. Kita harus membangun kekuatan tempur yang akan menang,” bunyi surat yang dilayangkan kepada Kongres, seperti diberitakan Air & Space Forces Magazine pada 13 April.
Data menunjukkan bahwa 13 dari 24 skuadron tempur Garda Nasional saat ini tidak memiliki rencana penggantian pesawat yang jelas, yang dapat memicu kelumpuhan operasional dalam beberapa tahun ke depan.
Brigjen Shannon Smith, kepala Garda Nasional Udara Idaho dan asisten ajudan jenderal negara bagian, mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya kelompok tersebut mengumpulkan tanda tangan dari semua 22 ajudan jenderal yang bertugas di negara bagian dengan unit pesawat tempur Garda.
“Ini adalah hal yang cukup besar,” kata Smith. “Apa yang kami coba lakukan dengan ini adalah mengirimkan pesan yang kuat dari para jenderal bintang dua yang memimpin Garda Nasional di negara bagian ini.”
Smith menekankan bahwa angka pengadaan yang direkomendasikan dalam surat tersebut adalah untuk seluruh kekuatan: Aktif, Garda, dan Cadangan.
Surat tersebut diikuti oleh komunikasi dari kelompok tersebut kepada delegasi kongres minggu ini untuk mencari dukungan lebih lanjut, kata Smith.
Dilema Anggaran dan Produksi
Meskipun kapasitas industri pertahanan seperti Lockheed Martin sanggup memenuhi permintaan tersebut, kendala utama terletak pada stabilitas anggaran di Kongres.
Pada tahun fiskal 2026, permintaan pembelian F-35 justru dipangkas menjadi hanya 24 unit, sebuah angka yang jauh dari kata cukup untuk melakukan pembaruan armada secara menyeluruh.
Untuk mengatasi hal ini, militer AS mengusulkan sistem kontrak multitahun. Model ini dipercaya dapat memberikan kepastian bagi industri, mempercepat rantai pasokan, dan menghemat anggaran negara antara 5% hingga 15% melalui efisiensi produksi.
Di mata analis militer, penguatan armada ini adalah elemen kunci dari strategi penangkalan global.
Kecepatan China dalam memproduksi jet tempur canggih secara massal memaksa AS untuk tidak hanya memiliki pesawat yang lebih baik, tetapi juga jumlah yang memadai.
Jika Kongres segera merespons desakan ini, diperkirakan butuh waktu 10 hingga 15 tahun untuk melakukan perombakan total armada.
Keputusan politik yang diambil tahun ini akan menjadi penentu apakah Amerika Serikat tetap memegang kendali di langit global atau harus merelakan superioritas udaranya kepada China di masa depan. (RNS)

