AIRSPACE REVIEW – Ketua Parlemen Slovenia yang baru terpilih, Zoran Stevanović, secara resmi mengumumkan niatnya untuk menyelenggarakan referendum mengenai penarikan diri Slovenia dari aliansi militer NATO.
Langkah ini merupakan bagian dari janji politik utamanya kepada para pemilih di tengah pergeseran peta politik negara tersebut.
Stevanović menegaskan, janji mengadakan referendum adalah janji setia kepada rakyat dan ia bermaksud menepatinya segera setelah menjabat.
Dalam wawancara dengan RTV SLO, ia menyatakan bahwa Slovenia harus menghindari keterlibatan dalam konflik militer dan diplomatik eksternal karena dianggap tidak memberikan keuntungan bagi negara.
Pemimpin partai anti-establishment Resni.ca ini menekankan perlunya Ljubljana kembali menjadi pusat pengambilan keputusan bagi Slovenia, menggantikan pengaruh Brussel.
Zoran Stevanović terpilih melalui pemungutan suara rahasia dengan dukungan 48 deputi di Majelis Nasional.
Keberhasilannya menduduki kursi Ketua Parlemen Slovenia terjadi setelah partai-partai liberal gagal mempertahankan mayoritas, sehingga memberikan ruang bagi kelompok sayap kanan dan partai kecil seperti Resni.ca sebagai “penentu suara” dalam pembentukan koalisi.
Meskipun sering dituduh memiliki pandangan pro-Rusia oleh para kritikus, Stevanović membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa posisinya adalah murni “pro-Slovenia”.
Ia juga berencana untuk melakukan perjalanan luar negeri pertamanya ke Moskow dalam waktu dekat untuk “membangun jembatan” komunikasi.
Langkah ini muncul di saat ketegangan global meningkat dan adanya tekanan internal terkait kenaikan anggaran pertahanan NATO yang sebelumnya sempat memicu perdebatan di Slovenia.
Meski referendum konsultatif di Slovenia tidak bersifat mengikat secara hukum, hasilnya akan memberikan tekanan politik yang signifikan bagi arah kebijakan luar negeri negara tersebut di masa depan.
Slovenia resmi menjadi anggota penuh NATO pada 29 Maret 2004.
Bergabungnya Slovenia merupakan bagian dari gelombang perluasan terbesar dalam sejarah NATO, di mana tujuh negara, yaitu Bulgaria, Estonia, Latvia, Lithuania, Rumania, Slowakia, dan Slovenia, diterima secara bersamaan.
Slovenia memainkan peran strategis dalam mendukung operasi NATO, meskipun skala angkatan udaranya sendiri terbatas.
Pangkalan Udara Cerklje ob Krki adalah pangkalan militer utama di Slovenia yang telah mengalami modernisasi besar-besaran dengan bantuan pendanaan dari NATO.
Pangkalan ini berfungsi sebagai pusat logistik dan dukungan untuk operasi udara NATO di kawasan Balkan.
Di pangkalan ini berbagai jenis pesawat NATO, termasuk pesawat pengintai seperti NATO AWACS (E-3A) sering mendarat untuk latihan atau koordinasi pengawasan wilayah udara.
Slovenia sering menjadi tuan rumah bagi konferensi perencanaan aset peringatan dini udara NATO (AWACS) di pangkalan ini.
Karena Slovenia tidak memiliki pesawat tempur jet sendiri (hanya mengoperasikan pesawat latih/serang ringan Pilatus PC-9M), kedaulatan wilayah udaranya dijaga sepenuhnya oleh anggota NATO lainnya secara bergantian.
Di bawah kerangka NATO Air Policing, Angkatan Udara Italia maupun Angkatan Udara Hongaria bertanggung jawab untuk mencegat pesawat tak dikenal atau yang melanggar wilayah udara Slovenia.
Sejak tahun 1998, sebelum resmi bergabung, bahkan Slovenia telah membuka wilayah udaranya secara penuh bagi pesawat-pesawat NATO untuk misi-misi internasional. (RNS)


Sudah sewajarnya negara negara slavik kalo tidak mau gabung csto, sebaiknya netral. Itu akan lebih aman buat dunia dan eropa