AIRSPACE REVIEW – Industri penerbangan Belanda tampaknya kini tengah bersiap untuk “merebut kembali” takhta inovasi dirgantara yang pernah mereka kuasai selama puluhan tahun.
Elysian Aircraft, sebuah perusahaan rintisan ambisius yang berbasis di Delft, baru-baru ini mengumumkan keberhasilan tahap Conceptual Design Review (CDR) untuk pesawat listrik E9X.
Langkah ini bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa Belanda siap mengulangi sejarah emasnya di langit dunia.
Proyek ini pun disesuaikan dengan perkembangan zaman di mana dunia kini sedang menuju kepada “penerbangan hijau”.
Di dunia aviasi, nama Belanda bukanlah nama kemarin sore. Belanda sangat identik dengan Fokker sepanjang abad ke-20. Fokker adalah raksasa yang merajai pasar pesawat regional dunia.
Pesawat ikonik seperti Fokker F27 Friendship menjadi pesawat turboprop paling laris dalam sejarah, sementara Fokker 50 dan Fokker 100 menjadi tulang punggung banyak maskapai internasional, termasuk di Indonesia.
Namun, sejak Fokker bangkrut du tahun 1996, ada kekosongan besar dalam manufaktur pesawat penumpang di Belanda.
Proyek E9X dari Elysian kini dipandang sebagai “pewaris spiritual” yang akan membawa semangat Fokker ke era modern yang ramah lingkungan.
Jika dulu Fokker menguasai langit dengan mesin jet dan turboprop, E9X bertekad menguasainya dengan tenaga listrik murni.
Inovasi Mendobrak Batas
Berbeda dengan banyak pengembang pesawat listrik yang masih berkutat di pesawat kecil (2-10 kursi), E9X dirancang untuk kapasitas massal.
Pesawat ini dirancang mampu mengangkut hingga 90 orang, kapasitas yang setara dengan kelas Fokker 100.
Berkat revisi desain terbaru, pesawat ini ditargetkan mampu menempuh jarak 800 km hingga 1.000 km.
Hal ini merupakan lompatan besar yang membuktikan bahwa baterai bisa digunakan untuk penerbangan regional jarak jauh.
E9X menggunakan sistem propulsi terdistribusi dengan delapan motor listrik yang membuat operasional lebih senyap dan efisien dibandingkan pesawat konvensional.
Baterai tidak diletakkan di badan pesawat, melainkan diintegrasikan langsung ke dalam struktur sayap untuk menjaga keseimbangan berat dan memaksimalkan aerodinamika.
Keberhasilan fase tinjauan desain ini membuktikan bahwa visi Elysian bukan sekadar mimpi.
Dengan dukungan para ahli dari Delft University of Technology, proyek ini memvalidasi bahwa teknologi saat ini sudah cukup kuat untuk mendukung pesawat listrik berukuran besar tanpa harus menunggu penemuan baterai “ajaib” di masa depan.
Dengan E9X, Belanda tidak hanya ingin mengurangi emisi karbon global, tetapi juga ingin menegaskan kembali posisi mereka sebagai pemimpin desain pesawat regional.
Langit dunia mungkin akan segera kembali melihat dominasi inovasi dari Negeri Kincir Angin, namun kali ini dengan suara yang lebih senyap dan jejak karbon nol.
Apakah proyek E9X akan berjalan mulus dan sukses di pasaran? Waktu yang akan membuktikannya. (RNS)

