Program MCGS pengganti Leclerc tertunda satu dekade, Prancis kembangkan MBT sementara

Prancis akan kembangkan MBT sementaraIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin pada 8 April 2026, mengonfirmasi Paris sedang mempelajari pengembangan platform tank tempur utama (MBT) sementara. Hal ini dilakukan karena program Sistem Tempur Darat Utama (MGCS) tertunda selama satu dekade.

Awalnya, tank MGCS diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2035, namun target ini diperkirakan mundur hingga 2045.

Tank tempur canggih ini berfokus pada sistem modular, berbasis kecerdasan buatan (AI), dan terhubung jaringan. Kehadirannya untuk menggantikan keluarga Leclerc Prancis dan Leopard 2 Jerman.

Sementara, “solusi sementara” yang diusulkan dapat memanfaatkan teknologi EMBT-ADT 140 milik KNDS, menggabungkan sasis tank Leopard 2 Jerman dengan turret baru ASCALON 140 mm dari Prancis.

Kehadiran tank sementara tersebut bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara tank Leclerc yang dioperasikan oleh Angkatan Darat Prancis ada saat ini dengan MGCS yang tertunda tersebut.

Berdasarkan inisiatif ini, Prancis ingin menghindari periode di mana brigade lapis bajanya masih menggunakan Leclerc yang sudah tua, sementara musuh potensial terus memperkuat armada lapis bajanya, memperbanyak drone, dan memperluas kemampuan antitank jarak jauh.

Meskipun telah diupgrade yakni Leclerc XLR, keberadaannya cukup memberi waktu, tetapi dianggap tidak dapat menjembatani kesenjangan sepenuhnya.

Salah satu fitur unggulan untuk tank sementara ini adalah menggunakan turret dioperasikan dari jarak jauh dan mengusung kanon berkaliber besar ASCALON 140 mm.

Kanon baru ini memiliki daya tembak yang tinggi dan kuat dibandingkan kanon konvensional 120 mm saat ini, dan akan dibekali amunisi terprogram.

Penggunaan sasis tank Leopard 2 sendiri akan menawarkan arsitektur otomotif yang matang, dan resiko lebih rendah dibandingkan mengembangkan platform baru sama sekali.

Mengenai keterlambatan program MGCS ini dilaporkan karena masalah politik dan ambisi desain antara Prancis dan Jerman.

Pertama, program tersebut kehilangan waktu bertahun-tahun karena perdebatan mengenai kepemimpinan industri dan pembagian kerja, dan baru diformalkan kembali dalam perjanjian yang ditandatangani di Paris pada 23 Januari 2025.

Kedua, MGCS menjadi lebih kompleks seiring perkembangannya dari ide penggantian tank dari sistem berawak ke tanpa awak.

Ketiga, Prancis lebih condong ke arah kelincahan jaringan, sedangkan Jerman mempertahankan penekanan yang kuat pada peperangan kontinental berat.

Bagi Prancis, kehadiran tank sementara ini menjadi sebuah strategi pengamanan untuk melestarikan keahlian lapis baja nasional dan mengurangi risiko transisi ke MGCS dengan menerapkan teknologi yang matang lebih awal. (RBS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *