Trump tidak lagi menginginkan sekutu mengirim kapal perang ke Selat Hormuz: Kita tidak membutuhkannya!

Trump tak lagi menginginkan sekutu mengirimkan kapal pernag ke Selat HormuzVia X

AIRSPACE REVIEW – Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan bantuan kapal perang dari negara-negara sekutu untuk membuka blokade di Selat Hormuz.

Keputusan ini menyusul penolakan dari Inggris, Jerman, Jepang, dan Australia yang enggan terlibat dalam misi militer langsung di wilayah perairan yang sangat rawan tersebut.

Melalui akunnya di Truth Social, Trump meluapkan kemarahannya dan menyebut aliansi NATO sebagai “jalan satu arah”.

Ia menuding negara-negara sekutu hanya mau menikmati perlindungan militer AS yang bernilai ratusan miliar dolar per tahun, namun menarik diri saat Amerika membutuhkan dukungan nyata untuk mengamankan jalur perdagangan energi global.

Trump menulis bahwa pasukan AS “tidak lagi membutuhkan” bantuan militer dalam perang Iran.

Trump mengatakan bahwa “sebagian besar” sekutu NATO telah menyatakan tidak ingin terlibat, bersama dengan Jepang, Australia, dan Korea Selatan, menggambarkan aliansi militer yang telah berusia puluhan tahun itu sebagai “jalan satu arah.”

“Karena kita telah meraih kesuksesan militer yang begitu besar, kita tidak lagi ‘membutuhkan,’ atau menginginkan, bantuan negara-negara NATO — KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA!” tulis Trump.

Politikus Republikan berusia 79 tahun ini telah lama mengkritik NATO, dan sejak kembali berkuasa pada Januari 2025, ia telah mendorong anggotanya untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka.

Di balik retorika politiknya, Trump mengklaim bahwa alasan utama AS menarik permintaan bantuan adalah karena militer Iran dianggap sudah hampir lumpuh total.

Menurut klaimnya, serangan udara AS dan Israel telah menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan laut, angkatan udara, hingga sistem pertahanan radar Iran.

Trump menegaskan bahwa dengan hilangnya banyak pemimpin kunci di Teheran, Iran bukan lagi ancaman yang memerlukan operasi gabungan skala besar bersama sekutu.

Namun demikian, pengunduran diri mendadak Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC), Joe Kent, memberikan sudut pandang berbeda yang mengguncang internal pemerintahan, menurut The War Zone.

Kent, seorang veteran perang yang sebelumnya dikenal sebagai loyalis Trump, menyatakan bahwa serangan terhadap Iran tidak didasari oleh ancaman langsung bagi Amerika, melainkan akibat tekanan lobi politik.

Langkah Kent tersebut menciptakan keretakan di Washington, di mana ia memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah adalah “jebakan” yang hanya akan menguras kekayaan dan nyawa warga Amerika.

Kondisi di lapangan sendiri menunjukkan bahwa konflik ini telah berkembang menjadi perang proksi yang sangat kompleks.

Laporan intelijen menyebutkan bahwa Rusia kini aktif membantu Iran dengan memberikan citra satelit langsung untuk melacak posisi pasukan AS.

Kerja sama ini terlihat dari penggunaan drone Shahed yang dimodifikasi dengan teknologi komunikasi Rusia, yang kini mulai mengancam kedutaan besar dan pangkalan militer Amerika di Irak menggunakan taktik serangan dari ketinggian tertentu.

Dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz juga mulai terasa secara global dan domestik. Harga minyak mentah Brent telah melonjak 3% menjadi sekitar 103 USD per barel (1 barel = 159 liter).

Kenaikan ini langsung berdampak pada harga bahan bakar diesel di Amerika yang kini melampaui 5 USD per galon (1 galon = 3,8 liter), memicu kekhawatiran akan terjadinya efek domino terhadap kenaikan harga logistik dan barang-barang kebutuhan pokok di seluruh negeri. Dengan angka ini, satu liter bahan bakar diesel di AS mencapai sekitar Rp21 ribu.

Sementara itu, ketidakpastian semakin meningkat karena Iran dilaporkan terus memutus akses internet dan mengalami masalah finansial di internal pasukannya.

Meski pembayaran gaji militer mereka tertunda, kelompok milisi yang didukung Iran tetap meluncurkan serangan balasan menggunakan amunisi kluster terhadap wilayah Israel.

Situasi ini menempatkan komunitas internasional dalam posisi sulit; di satu sisi mereka ingin menghindari perang terbuka yang lebih luas, namun di sisi lain stabilitas pasokan energi dunia sedang berada di ujung tanduk. (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *