AIRSPACE REVIEW – “Decapitation Strike” yang terjadi di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, bukan serangan udara biasa. Ini adalah sebuah “Decapitation Strike” (Serangan Pemenggalan) yang dirancang secara sistematis oleh Israel dan Amerika Serikat. Namun setiap aksi ofensif akan melahirkan reaksi defensif yang jauh lebih brutal. Iran tidak hanya diam, mereka membalas dengan mencekik leher ekonomi dunia di Selat Hormuz.
Bedah Target: Berdasarkan laporan dari sumber di Teheran pada 28 Februari pukul 20.00 IST, serangan gabungan Israel-AS menyasar target yang sangat spesifik. Ini bukan blind bombing, tapi serangan berbasis intelijen presisi tinggi, meliputi: Pusat Komando,Rumah Pemimpin Tertinggi, Gedung Pemerintah, dan Gedung Kehakiman. Pesan psikologisnya “Tidak ada tempat yang aman di Iran.”
Sasaran berikutnya adalah Instalasi Militer Strategis, Kementerian Pertahanan, Kementerian Intelijen, Organisasi Energi Atom Iran, serta Pangkalan Parchin.
Untuk nasib Brigjen Mohammad Pakpour sudah diketahui bahwa serangan udara telah menewaskan Panglima IRGC ini. Meskipun Menlu Iran, Abbas Araghchi, mencoba mendinginkan suasana dengan mengatakan “hampir semua pejabat selamat,” ia mengakui ada 1-2 komandan yang gugur.
Pakpour baru menjabat Juni lalu menggantikan pendahulunya yang juga tewas. Ini menunjukkan Israel melakukan perburuan sistematis terhadap elite militer Iran untuk menciptakan vacuum of command.
Strategi “Rudal Tua” dan Uji Nyali Hanud: Info menarik dari Brigjen Sardar Jabbari (Penasihat Panglima IRGC) yang harus kita soroti. Iran mengaku baru menggunakan “stok rudal tua” dalam serangan balasan mereka.
Menurut kacamata militer, ini adalah taktik Electronic Intelligence (ELINT). Iran sengaja mengorbankan rudal generasi lama untuk memetakan frekuensi dan lokasi radar serta peluncur Arrow-3 dan Iron Dome milik Israel. Pesannya Jelas bahwa jika rudal tua saja bisa membuat Israel dan AS sibuk, bayangkan apa yang terjadi jika Iran meluncurkan Fattah-2 atau rudal hipersonik terbaru mereka. Iran sedang menyimpan “taring” utamanya untuk fase Total War.
Front Maritim: Selat Hormuz Sebagai Senjata Pamungkas. Laporan susulan dari Teheran pukul 23.00 IST tanggal 28 Februari, memberikan data lapangan yang sangat mengkhawatirkan dari Bandar Abbas. Laporan ABK WNI menyebut bahwa tujuh ABK kita di tiga kapal berbendera Iran melaporkan suara ledakan sepanjang hari.
Dengan status blokade: Selat Hormuz resmi DITUTUP, kapal dilarang berlayar. Dampak Geopolitiknya adalah implementasi nyata prinsip realist. Iran tahu mereka tidak bisa menang dalam duel udara melawan F-35, maka mereka memindahkan medan tempur ke laut. Menutup Selat Hormuz adalah cara Iran berkata pada dunia: “Jika kami terbakar, dunia akan membeku karena krisis energi.” Ini akan memicu inflasi global secara instan.
Eksodus Diplomatik dan Ketahanan Sipil. Kita bisa melihat bagaimana struktur kekuasaan Barat mencoba meruntuhkan hegemoni internal Iran melalui perang psikologis.
Upaya Regime Change: PM Netanyahu secara terbuka mencoba memisahkan rakyat dari otoritas Iran. Namun, laporan dari Teheran menunjukkan rakyat Teheran tidak terjebak dalam panic buying. Toko tetap buka, kebutuhan dasar tersedia. Ada ketahanan sipil (civil resilience) rakyat Iran yang sangat kuat.
Langkah Diplomatik: Kedutaan Inggris (UK) sudah kosongkan. Kedutaan Rusia mengevakuasi staf non-esensial. Demikia pula Kedutaan Cina dan banyak Kedutaan lain di teheran. Langkah Inggris yang paling awal keluar menunjukkan bahwa intelijen mereka mencium adanya eskalasi yang jauh lebih besar dalam hitungan jam ke depan.
Kondisi WNI dan Rencana Evakuasi. Kkondisi saudara-saudara kita di Iran, di Kota Qom konsentrasi WNI terbanyak, lebih dari 200 orang. Meski ada ledakan, mereka relatif lebih tenang dibandingkan di pesisir. Menariknya, hasil Town Hall di KBRI menunjukkan WNI belum terlalu bersemangat untuk dievakuasi segera. Mereka masih memantau situasi. Ini bukti bahwa narasi “ketakutan” yang dipompa media Barat belum tentu berbanding lurus dengan realitas di lapangan.
Jalur Evakuasi Azerbaijan: Petugas KBRI Teheran bergerak lincah dengan sudah siap mereplikasi prosedur “Perang 12 Hari” silam, dengan rencana mengevakuasi WNI via jalur darat ke Azerbaijan jika situasi memburuk. Ini adalah rute paling logis karena ruang udara Iran saat ini adalah Kill Zone.
Analisis: Kita sedang menyaksikan akhir era dari diplomasi damai. Ketika Israel menyasar rumah pemimpin tertinggi dan Iran menutup Selat Hormuz, kita sudah melewati point of no return, diplomasi sudah masuk ranah Air Power Diplomacy.
Bagi Indonesia: Kita harus waspada. Penutupan Selat Hormuz akan memukul harga BBM kita. Bagi Sistem Pertahanan Militer kita pelajarannya adalah, secanggih apa pun teknologi Stealth Barat, mereka tetap rentan terhadap serangan asimetris dan blokade ekonomi. *
* Tulisan ini dibuat oleh Marsma TNI (Purn) Agung “Sharky” Sasongkojati. Pakar Strategi PPAU. Alumni US ACSC & US AWC. Former F-5 & F-16 Pilot.

